Feature Alizar Tanjung
Hujan rinai-rinai kecil mulai turun satu
jam menjelang magrib. Gabak makin menunjukkan dirinya di hulu. Tidak ada
tanda-tanda petang itu akan kembali cewang di langit Padang. Tepat setengah jam
menjelang magrib butiran-butiran hujan mulai mengguyuri Kelurahan Jalan M.
Yunus, Kelurahan LubukLintah, Kecamatan Kuranji, Padang, Kamis 5 Agustus 2013.
Jalan itu memotong dari Simpanganduring sampai Kalawi.
Menjelang malam butiran-butiran air
makin deras mengguyur jalan M. Yunus di tengah padatnya arus lalu lintas Simpanganduring
- Kalawi. Sebuah drainase kecil dipenuhi luapan air yang seperti menangis. Semakin
lama luapan air itu semakin besar akibat tidak kuatnya daya tampung drainase. Luapan
air itulah yang telah menjadi bagian kehidupan warga Lubuk Lintah sepanjang
musim hujan.
“Larikan motor ke kiri,” ujar salah
seorang yang mengatur lalulintas kendaraan di tengah banjir yang mengguyuri
badan jalan arah kampus IAIN Imam Bonjol Padang. Air naik setinggi betis orang
dewasa, melimpah ke teras-teras toko.
Beberapa kendaraan bermotor mati di tengah jalan, terpaksa harus didorong
oleh warga setempat. Satu angkot merah jambu jurusan Pasar Raya - Kalawi mati
di pusaran banjir, beberapa warga kembali mengambil inisiatif untuk mendorong
kendaraan. Mobil-mobil yang belum terlanjur masuk pusaran air, terpaksa harus
membanting stir mengambil jalur lain untuk menghindari pusaran banjir.
Air yang naik ke badan jalan menurut keterangan warga disebabkan oleh drainase
yang kecil. “Drainasenya hanya satu, kecil pula itu. Ini yang menyebabkan
banjir,” ujar Taufik warga Lubuk Lintah. Drainase yang kecil menyebabkan air
cepat meluap ketika hujan deras datang. Air yang datang yang tidak tertampung
oleh drainase menyebabkan terbentuknya pusaran di badan jalan.
Pusaran ini datang dengan arah memotong badan jalan. Dorongan yang kuat
menyebabkan motor yang lewat terbawa arus. Sebab itulah pemilik kendaraan
bermotor harus mendorong motor mereka. Sedangkan warga yang hendak pergi
berbelanja harus menyinsingkan celana dan roknya setinggi lutut.
Di samping drainase yang kecil, banjir juga disebabkan oleh warga yang
membangun rumah di atas drainase yang disemen. Menurut pengakuan warga banyak
warga setempat yang tidak sadar dengan fungsi drainase, hingga mendirikan bangunan
di atas dehidrasi. Padahal ini menjadi faktor pendukung terjadinya banjir.
Banjir yang berkepanjang berimbas kepada perekonomian warga setempat.
Pedagang gorengan, fried chickhen, bakso, nasi sepanjang jalan M. Yunus, Lubuk
Lintah, harus gigit jari. Pasalnya sepi pembeli. Hal ini disebabkan karena
warga yang mau berbelanja terhambat oleh air yang meluap.
“Orang yang berdagang bakso biasanya ramai, sekarang tidak,” ujar Ahmad
penggemar bakso Sarang Gagak. Kalau hanya sekedar hujan tentunya masih dapat
menikmati bakso. Namun banjir menghambat para pembeli untuk menikmati bakso
kesayangan mereka.
Kesulitan transportasi juga dirasakan oleh mahasiswa IAIN yang tinggal di
sekitar Surau Balai, Bandes, Sarang Gagak. Mereka yang hendak pergi maupun
pulang dari kampus harus berhadapan dengan banjir dan terkadang terlambat
kuliah.
“Sangat mengganggu terutama ketika jadwal kuliah. Kalau biasanya cepat
sampainya, karena banjir mengganggu jalan, ya jadi terlambat. Tambah lagi macet
angkot,” ujar Ikhlas mahasiswa IAIN Imam Bonjol Padang. Keterlambatan ini juga
dirasakan oleh dosen yang melewati jalan yang sama. Akibatnya jadwal mata kuliah
juga terganggu.
Ikhlas mengeluhkan kurangnya perhatian pemerintah Kota Padang terhadap
selokan air sepanjang Lubuk Lintah dan sekitarnya. Selokan yang minim adalah faktor
penyebab banjir. “Sudah dua tahun saya kuliah di sini masih juga itu
masalahnya,” keluhnya.
Larut malam hujan sudah mulai redah, butir-butir deras itu telah mulai
berkurang kuantitasnya, jalan-jalan telah sepi, tetapi banjir belum menunjukkan
menyusut. Air yang datang dari arah bypass kuantitasnya cukup besar untuk
ditampung drainase Lubuk Lintah.[]






0 komentar:
Posting Komentar