Guru Tulis

Topics :
harianday. Diberdayakan oleh Blogger.

Latest Post

SMP Plus Arrahman Kunjungi Kantor Pusat FAM Indonesia

Written By Alizar tanjung on Sabtu, 28 Desember 2013 | 18.54


PARE, KEDIRI – Sebanyak 52 siswa didampingi 11 guru SMP Plus Arrahman Kota Kediri mengunjungi kantor pusat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia di Pare, Kediri, Jawa Timur, Selasa (17/12). Kedatangan rombongan SMP Plus Arrahman itu dala
m rangka kunjungan belajar dan mengenal dari dekat aktivitas FAM Indonesia.

Rombongan SMP Plus Arrahman disambut Sekjen FAM Indonesia, Aliya Nurlela dan beberapa tim kerja FAM Indonesia di kantor FAM, Jalan Mayor Bismo, No. 28, Pare, Kediri.

Sekjen FAM Indonesia Aliya Nurlela, Rabu (18/12), mengatakan, dalam kunjungan itu siswa SMP Plus Arrahman diberikan motivasi menulis dan melihat-lihat perpusatakan FAM Indonesia yang memiliki koleksi sejumlah buku.

Kepala SMP Plus Arrahman Erlis Farida mengungkapkan, ketertarikan sekolahnya mengunjungi kantor pusat FAM Indonesia setelah melihat aktivitas FAM yang sangat banyak melakukan kegiatan literasi di berbagai kota.

“Kami ingin siswa-siswa kami juga mahir menulis dan memiliki minat melahirkan karya tulis,” ujar Erlis Farida.

Dia berharap, kunjungan itu bukan yang terakhir tetapi di masa mendatang dapat melakukan kunjungan kembali. Sebagai tanda kunjungan, kepala SMP Plus Arrahman memberikan cenderamata yang diterima Sekjen FAM Aliya Nurlela.

FAM Sumbar Kunjungi Panti Asuhan

Sementara itu, pengurus FAM Wilayah Sumatera Barat, Ahad (15/12), lalu berkunjung ke Panti Asuhan PGAI Padang dalam rangka memberikan motivasi menulis untuk anak-anak di panti itu.

Rombongan dipimpin Denni Meilizon, Koordinator FAM Wilayah Sumatera Barat dan acara motivasi menulis dipandu Amika An. Turut hadir pengurus dan anggota FAM Wilayah Sumatera Barat lainnya, yaitu Refdinal Muzan, Befaldo Angga, Karni Ushailli, dan Muhammad Fadli.

Acara dibuka dengan musikalisasi dan deklamasi puisi yang dilanjutkan sosialisasi FAM Indonesia yang disampaikan Befaldo Angga. Anggota FAM yang berasal dari Kota Bukittinggi Refdinal Muzan ikut membacakan puisi karyanya. Selanjutnya motivasi menulis diberikan Denni Meillizon. Hiburan musikalisasi dibawakan Muhammad Fadli dan acara ditutup dengan permainan (game).

Koordinator FAM Wilayah Sumatera Barat Denni Meilizon menyebutkan, anak-anak Panti Asuhan PGAI Padang sangat antusias atas kedatangan Tim FAM Wilayah Sumatera Barat itu.

Kedatangan Tim FAM bukan saja berbagi motivasi menulis tetapi juga memberikan sejumlah bantuan berupa buku-buku dan pakaian yang diserahkan langsung Koordinator FAM Wilayah Sumatera Barat, Denni Meillizon.

Pemenang Lomba Menulis Surat Akhir Tahun

Sebelumnya, pada Jumat (13/12) lalu, FAM Indonesia mengumumkan pemenang Lomba Menulis Surat Akhir Tahun yang digelar FAM Indonesia sebulan terakhir. FAM menerima 161 naskah surat yang dikirim peserta lomba yang terdiri dari anggota dan non-anggota FAM Indonesia.

Dewan juri yang terdiri dari Tim FAM Indonesia menetapkan nama-nama pemenang, yaitu Juara 1 Sukamto Prasetyo (Singkawang), Juara 2 Acet Asrival (Padang), dan Juara 3 Ken Hanggara (Surabaya).

Selain memilih pemenang utama, dewan juri juga memilih 7 surat terbaik, yaitu karya Zaqia Nur Fajarini (Bintuni), Dian Ambarwati (Ngawi), Elza Novria (Padang), Firmansyah Djalaluddin (Makassar), Susi Puspita Sari (Padang), Sri Wati (?), dan Aidil Zulkhan (Bengkalis).

Sebagai tanda apresiasi, FAM Indonesia memberikan paket ‘hadiah akhir tahun’ kepada para pemenang dan seluruh peserta menerima piagam penghargaan.

Anggota FAM Terima SKR Award

Kabar dari Solok, Sumatera Barat, anggota FAM Indonesia, Drs. Muklis Denros, Ahad (15/12) lalu menerima SKR Award 2013 atas prestasinya sebagai penulis produktif. Mukhlis Denros yang juga mantan anggota DPRD Solok (1999-2009) itu, menerima SKR Award bersama sejumlah tokoh Sumatera Barat lainnya.

SKR Award merupakan anugerah tahunan yang diberikan Tabloid Suara Keadilan Rakyat untuk tokoh-tokoh yang memiliki dedikasi tinggi di berbagai bidang. Tahun ini  SKR Award diberikan kepada 13 nominator dengan 13 kategori.

Selain anggota FAM Indonesia Mukhlis Denros, sejumlah nama lainnya yang ikut menerima SKR Award adalah H. Leonardy Harmainy, S.IP, MH., Dt Bandaro Basa (Wakil Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat, Feby Dt. Bangso Nan Putiah (Partai Kebangkitan Bangsa) H. Afdhal, Apt (Ketua DPD PKS Kota Sawahlunto), Ilhamsah, S.H, M.H (Badan Pertanahan Kota Sawahlunto), Irzal Ilyas Dt. Lawik Basa (Wali Kota Solok), Drs. Mukhlis Rahman (Wali Kota Pariaman).

Selain itu, Amran Nur (mantan Wali Kota Sawahlunto), Khalid Saifullah (Direktur Eksekutif Walhi Sumatera Barat), Indra Yosef (Wartawan), AKBP Lutfi Martadian, S.IK, S.H, M.H., (Kabid Propam Polda Sumatera Barat), Shadiq Pasadiqoe (Bupati Tanah Datar), dan Armadison (Wartawan).

Pegiat FAM Indonesia Muhammad Subhan menyampaikan rasa syukurnya atas prestasi yang diraih anggota FAM Indonesia di mana pun mereka beraktivitas. Dia menyebutkan, kehadiran FAM indonesia diharapkan benar-benar bermanfaat dan kegiatan-kegiatannya dapat memberikan inspirasi bagi banyak orang untuk ikut berkarya.

“Semoga di tahun 2014 mendatang FAM Indonesia dapat melakukan kegiatan-kegiatan literasi lainnya, dan para anggota semakin aktif melahirkan karya serta meraih berbagai prestasi,” tambahnya. (REL)

Masyarakat Aceh Padangpanjang Peringati Sembilan Tahun Tsunami

 PADANGPANJANG – Memperingati 9 tahun tsunami 2004, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Aceh (IPMA) Padangpanjang menggelar doa bersama dan Pagelaran Seni Budaya Aceh bertajuk “Saweu Gampong” (Pulang Kampung), Kamis (26/12) malam, di Gedung M. Syafe’i Kota Padangpanjang, Sumatera Barat. Sekitar 300-an warga Aceh dari berbagai kota di Sumatera Barat ikut meramaikan acara itu.

Tampak juga di tengah acara Penasihat IPMA, Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn., yang sedang menyelesaikan studi doktornya di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, didampingi pembina IPMA Muhammad Subhan yang juga Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia.

Walikota Padangpanjang Hendri Arnis diwakili Asisten Ahli Bidang Kebudayaan dan Pariwisata menyampaikan kagumnya atas penampilan kesenian-kesenian Aceh yang dibawakan mahasiswa asal Aceh malam itu.

“Pemerintah Kota Padangpanjang sangat mendukung kegiatan ini. Ini tentu menjadi bagian silaturahim antara masyarakat Padangpanjang dengan masyarakat asal Aceh,” kata Walikota.

Walikota juga menyatakan siap membantu program-program IPMA Padangpanjang dalam memajukan kesenian. IPMA juga dapat berpartisipasi dalam kegiaatan-kegiatan kebudayaan di Padangpanjang, salah satunya Festival Serambi Mekah yang menjadi agenda tahunan Pemerintah Kota Padangpanjang.

Penasihat IPMA Padangpanjang Sulaiman Juned pada kesempatan itu mengatakan, peringatan tsunami dan doa bersama tersebut juga dalam rangka ucapan terima kasih masyarakat Aceh kepada dunia (tanks to the world) atas bantuan yang diberikan kepada Aceh pascatsunami 2004 silam yang telah merenggut ratusan ribu nyawa.

“Termasuk bantuan dari masyarakat dan pemerintah Kota Padangpanjang yang dikirim ke Aceh, baik tenaga relawan, logistik dan berbagai bantuan lainnya,” ujar Sulaiman Juned yang juga membacakan puisinya tentang Aceh.

Ketua IPMA Padangpanjang Ansar Salihin mengatakan, IPMA merupakan perkumpulan mahasiswa dan pelajar Aceh di Padangpanjang yang berdiri pada tahun 1997. IPMA bertujuan menampung aspirasi dan silaturahim mahasiswa dan pelajar Aceh yang ada di Padangpanjang.

“Semoga program dan kegiatan IPMA untuk masa yang akan datang dapat berjalan dengan baik. Program-programnya diharapkan dapat bermanfaat untuk anggota dan masyarakat Padangpanjang,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Peringatan 9 Tahun Tsunami, Purwanto menambahkan, kesenian Aceh yang ditampilkan malam itu, di antaranya Tari Ranup Lampuan, Rapa’i Geleng, Tari Likok Pulo, Rapa’i, Didong, Tari Saman, disusul Pertunjukan Tari Guel. Selain itu ada Musikalisasi Puisi Kopi dan ditutup dengan pertunjukan pamungkas kolaborasi Orkes Keroncong Lapaloma, Rapa’i, Didong dan Baca Puisi.

“Yang tak kalah menarik, penonton disuguhkan penampilan Poh Cakra atau Hikayat yang dipaparkan Teuku Afifuddin yang sekaligus sebagai pembawa acara dan tukang buat kopi Aceh,” tambahnya. (REL)

Keterangan foto:
SEMBILAN TAHUN TSUNAMI -- Memperingati 9 tahun tsunami 2004, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Aceh (IPMA) Padangpanjang menggelar doa bersama dan Pagelaran Seni Budaya Aceh bertajuk “Saweu Gampong” (Pulang Kampung), Kamis, (26/12) malam, di Gedung M. Syafe’i Kota Padangpanjang, Sumatera Barat. Sekitar 300-an warga Aceh dari berbagai kota di Sumatera Barat ikut meramaikan acara itu. (Foto: Ist.)

Berdirinya Fakultas Tarbiyah Cikal Bakal IAIN Imam Bonjol Padang

Written By Alizar tanjung on Jumat, 04 Oktober 2013 | 08.48

Ditulis Ulang oleh Alizar Tanjung

Fakultas Tarbiyah tanggak tua berdirinya IAIN Imam Bonjol Padang, sekaligus sebagai awal kebangkitan Perguruan Tinggi Islam di Sumatera Barat, sesudah bubarnya Universitas Islam Darul Hikmah di Bukittinggi tahun 1958.

Universitas Darul Hikmah Bukittinggi didirikan 1953, tutup 1958. Universitas ini didirikan oleh Yayasan Darul Hikmah yang diketuai oleh H. Ilyas Yakub. Yayasan ini didirikan 22 Juni 1953 dengan akta notaris  Hasan Qalbi nomor 48. Universitas ini menghentikan kegiatan akademiknya karena terjadi pergolakan di Sumatera Barat tahun 1958.

Penelusuruan sejarah 50 tahun Fakultas Tarbiyah sudah dilakukan dalam bentuk penelitian terhadap sumber primer dan sumber sekunder. Termasuk sebahagian dari sesepuh pendiri Fakultas Tarbiyah sebagai referensi hidup, dan sebahagian dari sesepuh itu masih mempunyai proses berpikir yang cemerlang dan masih segar di ingatannya peristiwa berdirinya Fakultas Tarbiyah.

Catatan sejarah mengemukakan perbedaan-perbedaan pendapat tentang proses berdirinya Fakultas Pertama di IAIN Imam Bonjol Padang ini. Yakni Fakultas Tarbiyah sebagai cabang dari Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah. Kendati demikian soal perbedaan ini tidaklah menciutkan para peneliti untuk mengambil sejarah paling jernih dari berdirinya Fakultas Tarbiyah.

Berdirinya IAIN dan Berdirinya Fakultas Tarbiyah sebagai cabang dari Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah (ketika itu masih berstatus IAIN Syarif Hidayatullah) memiliki keunikan tersendiri. Keberadaan Yayasan Imam Bonjol menambah khasanah dari sejarah Fakultas Tarbiyah. Artinya Sejarah Fakultas Tarbiyah ibarat satu tubuh yang terhimpun dari Yayasan Imam Bonjol, Fakultas Tarbiyah Cabang dari Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah, dan IAIN Imam Bonjol Padang.

Pada prinsipnya Fakultas Tarbiyah ibu dari berdirinya IAIN Imam Bonjol Padang. Berdirinya Fakultas Tarbiyah yang menaungi pendidikan, ditandai dengan berdirinya ISI (Ikatan Sarjana Indonesia) pada tahun 1958 atas inisiatif panglima Kopas (Komando Operasi 17 Agustus) Sumatera Barat.

ISI Padang yang diketuai Drs. Azhari mendirikan Yayasan Imam Bonjol. Yayasan ini memulai pergerakannya dengan mempelopori Fakultas Agama Islam dengan Jurusan Tarbiyah. Drs. Azhari mempunyai peranan penting dalam penegakan batu pertama Fakultas Tarbiyah. Jurusan Tarbiyah kemudian dikukuhkan menjadi Fakultas Tarbiyah.

Fakultas Tarbiyah diresmikan pada tanggal 01 Oktober 1963. Tepat 1 Oktober 2013, Fakultas Tarbiyah genap berusia 50 tahun. Status Fakultas Tarbiyah berada dibawah naungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Setelah IAIN Imam Bonjol diresmikan 29 Nopember 1966, fakultas ini dikukuhkan menjadi salah satu Fakultas yang berada di bawah naungan IAIN Imam Bonjol Padang dengan rektor pertamanya Prof. Dr. Mahmud Yunus.

Menoleh sejenak kepada situasi sebelum tahun 1960, di Sumatera Barat ketika itu dunia Perguruan Tinggi Islam merupakan periode gawat. Puncaknya ditandai berakhirnya karir Universitas Darul Hikmah tahun 1958.

Universitas Islam Darul Hikmah didirikan Ilyas Ya'cub. Ketua yayasan Darul Hikmah ini cukup memberikan sumbangan besar bagi Sumbar. Matahari akademik dari Sumbar. Universitas yang dipimpin rektor pertama Syeikh Ibrahim Musa Parabek ini diresmikan Menteri Agama RI KH. Ilyas, 12 Oktober 1957.

Universitas Islam Darul Hikmah telah memiliki 4 Fakultas Induk, yakni Fakultas Syariah/Hukum Islam (1956) di Bukittinggi, ushuluddin (1956) di Padang Panjang, Dakwah wal- Irsyad (1957) di Payakumbuh, dan Fakultas Lughat al-Arabiyah wal-Tarbiyah (1957) di Padang.

Meskipun tahun 1958 itu terjadi pergolakan di Sumatera Barat dan berakibat mundurnya Universitas Darul Hikmah mundur dari panggung akademik, namun semangat dari masyarakat Minangkabau tetap membara untuk mendirikan untuk kembali membangun perguruan tinggi Islam di Daerah Minangkabau yang terkenal dengan falsafah hidup "adat bersandi syara', syara' bersandi kitabullah".

Sejarah telah mencatat bahwa Minangkabau adalah gudangnya para ulama dan tempat kelahiran pahlawan-pahlawan besar tanah air serta kiblat pengetahuan Islam di Tanah air. Semangat para ulama dan cendekiawan semakin menggebu untuk mendirikan perguruan tinggi Islam kembali di atas tinggalnya puing-puing Universitas Darul Hikmah, sebab masyarakat Sumatera Barat telah memiliki sejarah panjang Perguruan Tinggi Islam, di antaranya Perguruan Tinggi Islam Pariaman (1513-1697),  Perguruan Tinggi Islam Kamang Bukittinggi (1803-1822), Sekolah Islam Tinggi di Padang (1940-1942), dan Universitas Islam Darul Hikmah (1953-1958).

Semangat masyarakat Sumbar mendirikan perguruan Tinggi Islam merupakan kesadaran baru. Kesadarang itu terutama tumbuh di kalangan intelektual, pada sarjana, dan tokoh masyarakat Sumatera Barat umumnya. Para Sarjana dan intelektual ramai-ramai pulang kampung, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

Buah manisnya dari kesadaran masyarakat  Sumbar itu ditandai dengan berdirinya ISI di Padang. ISI berdiri atas inisiatif Panglima Kopag Brigjen Surjo Soempono tahun 1958, dengan ketua dipercayakan kepada Drs. Azhari.

Drs. Azhari jiwa baru berikutnya yang menjadi penggerak keberlangsungan Fakultas Tarbiyah. Azhari ketika itu baru pulang dari Yogyakarta setelah berhasil memperoleh keserjanaannya Fakultas Sosial Politik di Universitas Gajah Mada. Dia langsung ditunjuk menjadi ketua ISI Padang. Sungguhpun Drs. Azhari baru kembali dari Yogya, dia telah diberikan kepercayaan jabatan sebagai Sekretaris Kota Madya Padang masa pemerintahan Walikota Zainal Abidin Sutan Pangeran.

ISI Padang sebagai wadah sarjana muda Sumbar, maka ISI tidak dapat melepaskan diri dari kegiatan-kegiatan yang bergerak di bidang pendidikan, terutama kembali aktifitas untuk mendirikan kembali Perguruan Tinggi Islam.

Para sarjana muda yang tergabung dalam ISI padang di kemudian hari mengalihkan perhatian lebih lanjut terhadap konsep perguruan tinggi.. Mereka menggarap konsep pendirian lembaga-lembaga perguruan tinggi, disamping ikut menyumbangkan pemikiran memecahkan persoalan-persoalan masyarakat, meredakan darah pemberontakan, menciptakan persatuan dan kesatuan, sesuai dengan tujuannya semula yang diungkapkan oleh Panglima Kopag.

Ada hal yang menarik dari pondasi awal Fakultas Tarbiyah. Orang-orang yang mengonsep Perguruan Tinggi Islam, mereka bukan dari Universitas Islam. Mereka merupakan dari jalur pendidikan umum yang peduli terhadap Islam. Hal ini disebabkan dari latarbelakang perjalanan hidup mereka. Mereka sambil sekolah umum juga belajar di sekolah agama, pagi di sekolah umum, sorenya belajar di Surau.

Setelah situasi mereda,  pergolakan sudah tenang, panglima Kopag Brigjen Surjo Soempono melihat betap besar keinginan masyarakat Sumbar untuk mendirikan Perguruan Tinggi Islam, terutama mereka para sarjana muda yang tergabung dalam ISI Padang berkeinginan untuk mewujudkan cita-cita masyarakat untuk membangun kembali Perguruan Tinggi Islam, lembaga pendidikan pada umumnya. Brigjen Surjo Soempono memerintahkan untuk mendirikan yayasan. Selanjutnya diharapkan mengadakan persiapan hendak membangun lembaga pendidikan dari tingkat SLA sampai ke perguruan tinggi terutama Perguruan Tinggi Islam seperti Fakultas Agama Islam di samping Fakultas Sosial Politik. Perintah itu langsung diterima Drs. Azhari selaku Ketua ISI Padang, yang ketika Azhari masih memangku jabatan sebagai Sekretaris Kota Padang.

 Dari kerja keras ISI Padang yang diketuai Drs. Azhari lahirlah Yayasan Imam Bonjol, sebagai bayi yang mulus yang memiliki energi positif, sekaligus merupakan letupan awal dari masyarakat Sumbar untuk kembali membangun Perguruan Tinggi Islam di Sumbar. Modalnya yang dikeluarkan modal dengkul, modal awal Rp.10.000 dan seberkas konsep Anggaran Dasar Yayasan Imam Bonjol. Azhari dan dkk, menghadap notaris Padang tanggal 10 Februari 1962 yang ketika itu notarisnya Hasan Qalbi, dia wakil Notaris Padang. 

Tokoh pendiri Yayasan Imam Bonjol yang ikut menghadap sekaligus menjadi saksi di hadapan Notaris Hasan Qalbi, ada 4 orang. Mereka yaitu:
1. Meester Chaidir Nin Latif Datuk Mandaro (Kepala Eksploitasi Jawatan Kereta Api Sumatera Barat)
2. Drs. Azhari
3. Drs. Moerkarno (Komisaris Polisi Tingkat I di Kantor Polisi Komisariat Sumbar)
4. Meester Liem Swan Hong alias Haslim SH (Saudagar, mantan Pimpinan PT. Semen Tiga Roda dan Perusahaan Produksi Laserin di Jakarta).
 
Hal yang menarik yang melatarbelakangi berdirinya Yayasan Imam Bonjol ini, yaitu latar belakang orang-orangnya. Keempat orang yang hadir sebagai saksi pendirian yayasan, mereka orang-orang yang berlatar pendidikan yang berbeda-beda. 
 
Pendaftaran Yayasan Imam Bonjol ke notaris juga didampingi dan ditandatangani oleh Amilius Sjahdanoer, S.H., Jamar Joenoes, Burma Burhan, S.H., Dr. Mudanton, Sutan Abdul Majid T, Zoekarnaeni, dll. Dari hasil pertemuan pemuka Yayasan Imam Bonjol itu, Notaris Padang mengukuhkan Yayasan Imam Bonjol dengan akte notaris yang ditandatangani Hasan Qalbi, Nomor: 34 tertanggal 19 Februari 1962.

Akte Notaris Yayasan Imam Bonjol ini terdiri dari 15 halaman. Halaman 1 memuat kesaksian Yayasan Imam Bonjol menghadap Notaris Hasan Qalbi Padang. Halaman 2 sampai halaman 13 memuat Anggaran Dasar Yayasan Imam Bonjol dalam 21 fasal. Halaman 13 sampai halaman 14 mencatat para pendiri Yayasan Imam Bonjol dan sekaligus sebagai Dewan Pengurus Yayasan Imam Bonjol Periode Pertama.

Para pengurus Yayasan Imam Bonjol Periode Pertama, yaitu:
Ketua umum Drs Azhari
ketua I Mr. Chaidir Nin Latif Datuk Mandaro
Ketua II Drs. Ec. Jamar Joenoes Sutan Tumanggung
Setia Usaha I Mr. Amilius Sjah'danoer
Setia Usaha II Mr. Burma Burhan
Bendahara Hadis Didong
Pembantu.
1. Moehammad Roesli
2. Mr. Liem Swan, alias Haslim, S.H.
3. Mr. Amilius Sjah'danoer
4. Drs. Ec. Jamar Joenoes Sutan Tumanggung
5. Mr. Burma Burhan
6. Mudanton.
 
Tujuan berikutnya Yayasan Imam Bonjol, dituntut merealisasikan tujuan berdirinya. Hal yang menjadi tujuan Yayasan Imam Bonjol seperti yang termaktub dalam Anggaran Dasarnya Pasal 3 halaman 2 Akte Notaris No. 13 itu adalah "Mempersiapkan tenaga yang berguna bagi kemajuan dan kemakmuran nusa dan bangsa Indonesia, yaitu dengan jalan:
a. Mengadakan serta menyelenggarakan perguruan-perguruan, sekolah-sekolah, dan kursus-kursus dari segala tingkatan, terutama perguruan tinggi seperti fakultas agama, sosial politik, tata niaga, fakulas keguruan dan ilmu pendidikan, dll.
b. Melancarakan usaha-usaha dalam lapangan kebudayaan dengan arti seluas-luasnya.

Berkat usaha Yayasan Imam Bonjol merealisasikan programnya. Setelah mengadakan survei serta menghimpun pemikiran cendekiawan serta ulama dan pemuka masyarakat Sumbar lainnya, lahirlah dua fakultas dalam waktu yang bersamaan, 5 Juni 1962.

Fakultas pertama ialah Fakultas Agama Islam Jurusan Tarbiyah (pendidikan) dengan dekan Mr. Amilius Sjah'danoer, S.H. dan fakultas kedua adalah Fakultas Sosial Politik Jurusan Administrasi Negara dengan Dekan Mayor Drs. Soedarman Hadisoecipto.
 
Pada waktu itu khusus Fakultas Agama Islam Jurusan Tarbiyah menerima mahasiswa baru untuk tahun akademik 1962/1963. Hal yang menjadi problem ketika itu adalah tempat kuliah. PGAI yang menjadi inisiatif tempat, PGAI meminjamkan tempat untuk kuliah dan persoalan akademis, ketika itu PGAI diketuai Makmur Hamzah Sutan Makmur. Sedangkan untuk mengatasi kesulitan penyediaan tenaga pengajar terbantu sekali dengan kesediaan segala unsur seperti dari alim ulama, intelektual serjana, unsur pemuka masyarakat, dan cendekiawan lainnya, di antaranya yang menyediakan diri Prof. Zahara Idris, MA, H, Ma'ani Shaleh, M. Kiman Sutan Sikumbang, Dra. Aisyah, Anas, S.H., Drs. Bakhtiar, dll.

Mahasiswa Pertama Fakultas Agama Islam Yayasan Imam Bonjol (FAI-YB) ketika itu sekitar 100 orang. Meskipun kuliah tatap muka tidak begitu intensif, semangat pada mahasiswa tetap berapi-pai mendalami ilmu pengetahuan. Di antara mahasiswa pertama FAI-YB yaitu Rusli M. Rasyid, Juniddin Awai, A. Malik Sam, Nazaruddin, Ismail Karim, Amiruddin, Abdul Jalal, Murni Jamal, M. Farid, Dalminis, Syafril Bey, Rajulis, dll. Murni Jamal memegang nomor urut 01.
 
Sekarang pada umumnya mereka sudah punya kedudukan penting dalam berbagai struktur sosial masyarakat dan pemerintahan di berbagai Departemen di tanah air. ...

 
 
 
 

Memperebutkan Piala Bupati Agam (SMP Negeri 1 Sungai Pua Gelar “Puisi Oktober”)

Written By Alizar tanjung on Minggu, 29 September 2013 | 23.18



AGAM, SUMATERA BARAT – Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa tahun ini, SMP Negeri 1 Sungai Pua, Kabupaten Agam, Sumatera Barat menggelar Lomba Baca “Puisi Oktober” antarpelajar SMP/MTs dan SMA/MA se Kabupaten Agam.

Lomba baca puisi bebas dan kreatif itu akan berlangsung pada Senin, 28 Oktober 2013, pukul 08.00 WIB di aula Kantor Wali Nagari Sungai Pua. Panitia mengundang tiga orang dewan juri, yaitu Papa Rusli Marzuki Saria (Penyair Senior Sumatera Barat), Alizar Tanjung (Penyair dan Pegiat Komunitas Rumah Kayu Padang), dan Muhammad Subhan (Pegiat Forum Aktif Menulis Indonesia).

Ketua Panitia Refdinal Muzan, S.Pd., Senin (30/9) mengatakan, ide lomba ini tercetus ketika salah seorang siswa SMP Negeri 1 Sungai Pua Alfi Yetti Maysa berhasil meraih Juara 1 Lomba Baca Puisi Pelajar Tingkat SMP se Kabupaten Agam yang melakukan persiapan untuk mewakili Agam di tingkat Provinsi dan berhasil memperoleh Juara 2. Lomba di tingkat provinsi itu merupakan agenda rutin yang diadakan Kantor Arsip dan Perpustakaan Sumatera Barat, yang pada waktu itu dihadiri Kepala Kantor Arsip dan Perpustakaan Drs. Danil Depo, Camat Sungai Pua M. Arsyid, S.Sos., dan tokoh masyarakat Sungai Pua, Drs. Feri Adrianto St. Sinaro.

“Dari lomba-lomba sebelumnya yang anak-anak kami ikuti, ternyata di SMP Negeri 1 Sungai Pua tersimpan bakat-bakat terpendam. Kami harapkan, lewat lomba yang kami gelar ini, bakat-bakat lainnya akan semakin bermunculan, baik di Sungai Pua maupun di sekolah lainnya di Kabupaten Agam,” ujar Refdinal Muzan, Pelatih Puisi SMP Negeri 1 Sungai Pua yang juga Koordinator Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia Cabang Kota Bukittinggi dan sekitarnya.

Diungkapkan Refdinal Muzan, lomba ini bermaksud tidak hanya mengajak generasi muda untuk mengenang betapa pentingnya menjalin kebersamaan di tengah keberagaman suku, budaya, dan bahasa di negara kesatuan ini, tapi juga diharapkan momen Sumpah Pemuda 28 Oktober mampu menjembatani semua kalangan untuk saling bersinergi dalam mengasah prestasi khususnya lewat puisi.

“Acara ini juga mengajak generasi muda dan kita semua untuk selalu mencintai kebiasaan membaca. Membaca karya sastra yang berbentuk puisi adalah sebuah ketekunan yang menghendaki keseriusan yang menyenangkan. Karena bahasa puisi juga mampu membuka mata dan hati para penikmatnya,” papar Refdinal Muzan, Guru SMP Negeri 1 Sungai Pua yang dipimpin Kepala Sekolah Drs. Fakhrizal ini.

Ditambahkan, lomba baca puisi bebas dan kreatif ini, peserta bebas menyiapkan puisinya sendiri dengan kreasi yang juga diserahkan kepada peserta agar pembacaan lebih menarik dan bervariasi.

Pendaftaran peserta telah dibuka untuk tingkatan pelajar SMP/MTs dan SMA/MA se Kabupaten Agam dengan jumlah peserta yang tidak terbatas dari masing-masing sekolah. Bagi sekolah yang ingin mengutus siswa terbaiknya dalam lomba ini dapat menghubungi SMP Negeri 1 Sungai Pua di nomor telepon 0752-691055 atau CP Panitia 0813 7435 9199. (rel)

Keterangan Foto:
SMP Negeri 1 Sungai Pua, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Sajak-sajak Alizar Tanjung Terbit Lampung Post, 29 September 2013


Sajak Alizar Tanjung
BATU ASAHAN MENGASAH MATA CANGKUL

pada tumpul mata cangkul, mataku, kau batu asahan
kau asah hidupku, serupa hidup petani yang bangun
pagi hari, kau tajamkan yang tumpul, biar lunak
tanah yang keras.

air basahan batu asahan itu juga yang memoles
tubuhku, berkarat telah mengkilat, tajam telah
bersepuh, kini sepuh milikku, padamu tubuh susut
di tajam mataku.

(rumahkayu, 2013)





Sajak Alizar Tanjung
HUJAN DESEMBER

di musim hujan desember, daun berguguran di ladang,
murai berhenti berkicau, engkau terukakan cangkul
ke tanah, musim hujan ini musim meneruka,
menanam tampang kentang, menyemai benih cabai.

makin kasar garis tanganmu saat buruh di kota
di detik yang sama meneriakkan perlawanan
jangan kempeskan perut kami, pada garis tanganmu
sungai mengalir mengaliri perih,
jatuhnya di tangkai cangkul.

di kota pada tempat yang berbeda, di musim hujan
di detik yang sama, orang pinggiran berbicara
air ini telah sampai batas leher kami, besok
menutupi ubun kepala.

(rumahkayu, 2013)










Sajak Alizar Tanjung
KOTA TUA BATANGARAU

aku menelusuri jalan ini, kiri-kanan gedung tinggal
peninggalan hindia-belanda, jendela pecah,
pintu dirantai, dinding yang dijalari bunga,
tenggerek bersuara nyaring dari dalam, jauh di depan
jejak pelabuhan masih bernada.

pikiranku menuju masa lampau di gedung ini,
bau alkohol menyeruak dari gelas dan botol
miliki hindia-belanda di hari pesta, anak-anak
kulit putih bernyanyi riang menjelang berangkat
sekolah.

tiba-tiba gedung ini telah kosong, kemerdekaan
mengosongkannya.

(rumahkayu, 2013)












Sajak Alizar Tanjung
PUISI YANG AKU CINTAI

seperti, "daun yang mencintai batang, menggugurkan
dirinya, agar batang bertambah tumbuh kembangnya,
daun menjadi pupuk, pupuk menjadi makanan batang,
sirna dirinya."

aku mencintai puisi, puisi mencintai aku,
aku datang kepadanya dengan sayang,
dia serahkan dirinya kepadaku dengan sayang,
aku belai rambut puisi yang hitam, lalu memerah,
lalu memutih, puisi sambut tanganku yang halus,
lalu kasar, lalu keriput, aku cium bibir puisi,
puisi terima lidahku yang harum, hambar, busuk.

kami saling cinta, aku menikahi puisi, pengantinku
bergaun, ungu, merah jambu, jingga, ke kamarku
kubawa dia, "kita melahirkan anak puisiku sayang,
karena cintaku padamu tumbuh berkembang."

puisi melahirkan satu anak
aku berikan seratus bakal anak, puisi melahirkan
seratus anak, aku berikan seribu bakal anak, puisi
melahirkan seribu anak, aku gugur dan dan cintaku
yang bernama puisi tumbuh berkembang, semusim,
seabad, seratus abad, seribu abad.

(rumahkayu, 2013)

















Sajak Alizar Tanjung
HITAM RAMBUTMU

pada ujung kuku, pada sentuhan itu, pada belaian
lima jemariku, pada puncak hidungku, pada angin harum
aroma rambutmu yang melesat ke dadaku,

mengingat warna rambutmu yang menghangatkan
di tepi kota, di pelabuhan pertemuan dan perpisahan
segelap hitam yang tidak mau mengalah,

aku lakon cinta yang tidak kalah dengan perpisahan,
sepi memang bermain dalam kenangan, tapi kenangan
menghidupkan seteguh burung laut yang terbang
sepanjang tahun dan tahun berikutnya.

kapal itu telah berlayar sepanjang pulau dan air yang surut
ke tengah lautan, ke palung yang menyusuri tubuhnya
sendiri,

dan kau di dalamnya sewarna hitam rambutmu
yang makin aku cinta, aku mesra, aku abadikan dalam
sajak ini meski sajak ini sajak terakhir untukmu.

(rumahkayu, 2013)








*Alizar Tanjung, Sedang menyelesaikan S2 di IAIN Imam Bonjol Padang. Beralamat di Jalan M. Yunus, Sarang Gagak, no. 142 RT 04 RW 03, kelurahan Anduring, Kec. Kuranji, Kota Madia Padang, 25151.
 Karya-karyanya.  dipublikasikan di koran lokal dan nasional.Kontak 085278970960








Guru Tulis
Guru Tulis
Guru Tulis
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. harianday - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger