Sajak
Alizar Tanjung
BATU ASAHAN
MENGASAH MATA CANGKUL
pada tumpul
mata cangkul, mataku, kau batu asahan
kau asah
hidupku, serupa hidup petani yang bangun
pagi hari, kau
tajamkan yang tumpul, biar lunak
tanah yang
keras.
air basahan
batu asahan itu juga yang memoles
tubuhku,
berkarat telah mengkilat, tajam telah
bersepuh, kini
sepuh milikku, padamu tubuh susut
di tajam
mataku.
(rumahkayu,
2013)
Sajak
Alizar Tanjung
HUJAN DESEMBER
di musim hujan
desember, daun berguguran di ladang,
murai berhenti
berkicau, engkau terukakan cangkul
ke tanah, musim
hujan ini musim meneruka,
menanam tampang
kentang, menyemai benih cabai.
makin kasar
garis tanganmu saat buruh di kota
di detik yang
sama meneriakkan perlawanan
jangan
kempeskan perut kami, pada garis tanganmu
sungai mengalir
mengaliri perih,
jatuhnya di
tangkai cangkul.
di kota pada
tempat yang berbeda, di musim hujan
di detik yang
sama, orang pinggiran berbicara
air ini telah
sampai batas leher kami, besok
menutupi ubun
kepala.
(rumahkayu,
2013)
Sajak
Alizar Tanjung
KOTA TUA BATANGARAU
aku menelusuri
jalan ini, kiri-kanan gedung tinggal
peninggalan
hindia-belanda, jendela pecah,
pintu dirantai,
dinding yang dijalari bunga,
tenggerek
bersuara nyaring dari dalam, jauh di depan
jejak pelabuhan
masih bernada.
pikiranku
menuju masa lampau di gedung ini,
bau alkohol
menyeruak dari gelas dan botol
miliki
hindia-belanda di hari pesta, anak-anak
kulit putih
bernyanyi riang menjelang berangkat
sekolah.
tiba-tiba
gedung ini telah kosong, kemerdekaan
mengosongkannya.
(rumahkayu,
2013)
Sajak
Alizar Tanjung
PUISI YANG AKU
CINTAI
seperti,
"daun yang mencintai batang, menggugurkan
dirinya, agar
batang bertambah tumbuh kembangnya,
daun menjadi
pupuk, pupuk menjadi makanan batang,
sirna
dirinya."
aku mencintai
puisi, puisi mencintai aku,
aku datang
kepadanya dengan sayang,
dia serahkan
dirinya kepadaku dengan sayang,
aku belai
rambut puisi yang hitam, lalu memerah,
lalu memutih,
puisi sambut tanganku yang halus,
lalu kasar,
lalu keriput, aku cium bibir puisi,
puisi terima
lidahku yang harum, hambar, busuk.
kami saling
cinta, aku menikahi puisi, pengantinku
bergaun, ungu,
merah jambu, jingga, ke kamarku
kubawa dia,
"kita melahirkan anak puisiku sayang,
karena cintaku
padamu tumbuh berkembang."
puisi
melahirkan satu anak
aku berikan
seratus bakal anak, puisi melahirkan
seratus anak,
aku berikan seribu bakal anak, puisi
melahirkan
seribu anak, aku gugur dan dan cintaku
yang bernama
puisi tumbuh berkembang, semusim,
seabad, seratus
abad, seribu abad.
(rumahkayu,
2013)
Sajak
Alizar Tanjung
HITAM RAMBUTMU
pada ujung
kuku, pada sentuhan itu, pada belaian
lima jemariku,
pada puncak hidungku, pada angin harum
aroma rambutmu
yang melesat ke dadaku,
mengingat warna
rambutmu yang menghangatkan
di tepi kota,
di pelabuhan pertemuan dan perpisahan
segelap hitam
yang tidak mau mengalah,
aku lakon cinta
yang tidak kalah dengan perpisahan,
sepi memang
bermain dalam kenangan, tapi kenangan
menghidupkan
seteguh burung laut yang terbang
sepanjang tahun
dan tahun berikutnya.
kapal itu telah
berlayar sepanjang pulau dan air yang surut
ke tengah
lautan, ke palung yang menyusuri tubuhnya
sendiri,
dan kau di
dalamnya sewarna hitam rambutmu
yang makin aku
cinta, aku mesra, aku abadikan dalam
sajak ini meski
sajak ini sajak terakhir untukmu.
(rumahkayu,
2013)
*Alizar
Tanjung, Sedang menyelesaikan S2 di IAIN Imam Bonjol Padang.
Beralamat di Jalan M. Yunus, Sarang Gagak, no. 142 RT 04 RW 03, kelurahan
Anduring, Kec. Kuranji, Kota Madia Padang, 25151.
Karya-karyanya. dipublikasikan di koran lokal dan
nasional.Kontak 085278970960






0 komentar:
Posting Komentar