Guru Tulis

Topics :
harianday. Diberdayakan oleh Blogger.
Home » » Jam Malam

Jam Malam

Written By Alizar tanjung on Sabtu, 28 September 2013 | 07.08

Kota Tua Sawahlunto ini telah sepi. Kursi-kursi besi taman Lapangan Simpang Tiga ini telah sepi. Para pedagang minuman, sate, gorengan, telah tutup. Pedagang terakhir yang angkat gerobak, pedagang jus yang menunggumu membayar pesanan Cappuccino dingin pukul 10 malam tadi. Dan orang terakhir yang masih tinggal adalah kau dengan Beat barumu.

Kau masih memilih menatap gedung Bukit Asam itu. Menatap di antara bayang-bayang malam tepat di puncak atap yang tinggi menjulang. Jelas sekali itu tipe bangunan Belanda. Dahulu itu adalah kantor rentenir Belanda. Dari gedung itu mereka mengontrol pertambangan batubara. Para pekerjanya pribumi, orang rantai yang didatangkan dari Pulau Jawa.

Sekarang gedung itu masih diaktifkan. Bedanya siapa yang bekerja di dalam. Kalau dahulu mereka yang duduk tenang di dalam adalah Belanda. Kalau sekarang yang duduk tenang di dalam adalah orang pribumi. Ya, orang pribumi. Kau sudah menyapanya tadi siang, pola wajah mereka sama dengan dirimu, cara mereka bicara, bahasa mereka, tidak ada bedanya.

"Ini kiranya," katamu pelan. Kau sedang bicara dengan dirimu sendiri. Tidak mungkin kau bicara dengan motor yang kau parkir di depan. Tanganmu menyamping ke bahu kursi besi, kiri dan kanan. Sisa Cappuccino tinggal seperempat. Dan kau benar-benar seperti lupa bahwa ada Cappuccino yang menunggu kau minum di antara temaram lampu taman.

Tempat ini memang telah berubah menjadi objek wisata. Gedung-gedung peninggalan sejarah saksi kekejaman masa lalu telah menjadi tempat kunjungan menarik di masa sekarang. Orang-orang bebas tersenyum, menikmati angin sore, malam minggu. Sebab itu kau ditugaskan kantormu untuk melakukan liputan khusus ke kota bersejarah ini.

"Orang Rantai. Ya, itulah yang harus kamu telusuri ke Kota Tambang," ujar Pimpredmu. Seminggu sebelum hari ini, dan sekarang kau sudah malam kedua di Kota Tua ini. Kau ditugaskan untuk menelusuri jejak sejarah, seperti menelusuri jejak kakekmu sendiri yang pernah berjuang mengusir Belanda.

"Orang Rantai" mereka para pekerja yang kakinya di rantai. Itu kata kunci yang kamu bawa dalam kepalamu. Tugasmu menelusuri jejak Orang Rantai. Meski kau hidup di zaman kebebasan. Dan kau buru-buru mengambil nafas panjang. Menatap ke puncak gerbong asap gedung meski gedung itu tidak pernah lagi mengeluarkan asap.

Kepalamu telah dipenuhi kalimat "Orang Rantai". Dia hantu dalam kepalamu. Mengungkit isi benakmu, menusuk pikiran sensitifmu. Memaksamu berdiri tiba-tiba dengan kepalan tangan menegang. Sesaat kemudian kau teriak lantang

"Ahhh." Tidak tahu apa yang ingin kau katakan. Dan kau duduk dengan lemas. Kemudian kembali ke posisi seolah tidak terjadi apa-apa. Bulan di ujung sana tertutup kabut tipis. Pengendara sesekali lewat dengan bunyi knalpot standar. Tepat sebelah kanan gedung, jalan menuju lubang Mbah Soero sebuah bayangan berkelebat. Rupanya yang berhasil membuat dadamu berdesir, kucing yang berlarian mengejar tikus.

Dan kau tidak memungkiri lubang Mbah Soero penghubung cerita "Orang Rantai". Kau pikir ini sejarah, sejarah biasa, rupanya sejarah ini sejarah bertuah.



Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. harianday - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger