Guru Tulis

Topics :
harianday. Diberdayakan oleh Blogger.
Home » , » Wisata Orang Rantai

Wisata Orang Rantai

Written By Alizar tanjung on Sabtu, 28 September 2013 | 06.23

Kota Tua Sawahlunto bukan kota yang asing lagi bagi wisatawan baik lokal, nasional, maupun international. Dia telah menjadi ikon Sawahlunto. Tidak berkesan rasanya kalau berkunjung ke Kota Sawahlunto tidak singgah di Kota Tua.

Saya datang ke Sawahlunto seorang diri. Berniat refreshing setelah melakukan rutinitas yang padat di Kota Padang, di sela-sela aktifitas dunia kerja sebagai penulis tetap di majalah dan aktifitas kuliah Magister.

Memasuki Kota Sawahlunto, 80 KM dari Padang, mata akan dimanjakan dengan pemandangan kerajinan tradisional. Mulai dari kerajinan sapu Silungkang, kerajinan kayu, gantungan kunci, dan yang terpenting songket.

Songket Silungkang sangat terkenal secara nasional. Kalau berkunjung di tahun 60-an setiap rumah serupa memiliki musik tradisional. Setiap rumah kaum perempuannya disibukkan dengan pembuatan songket. Sekarang kalau berkunjung ke Silungkang, songket juga menjadi kenangan-kenangan tidak terlupakan.

Cara pembuatannya telah mengalami perubahan. Mesin pembuat songket pun telah berdiri di Silungkang. Sehingga pesanan dalam skala besar dapat dipenuhi. Songket merupakan salah satu ciri khas Kota Sawahlunto.

Silungkung merupakan jalur penghubung ke Muaro Kalaban. Muaro Kalaban merupakan persimpangan menuju Kota Tua Sawahlunto, jalur kiri jalur ke Kota Tua, jalur kanan jalur menuju Sijunjung. Jarak antara Muaro Kalaban ke Kota Tua Sawahlunto dapat ditempuh dengan 25 menit berkendaraan motor.

Matahari sedang terik. Saya sampai di pinggiran Kota Tua. Memandang ke pusat Kota Tua saya disuguhkan dengan pemandangan yang eksotis. Dari kejauhan tampak museum kereta api kedua di Indonesia. Mesjid tua dengan menara tinggi menggugah mata untuk berlama-lama menikmatinya. Bangunan-bangunan Belanda masih berjajar rapi. Bahkan bangunan-bangunan baru pun pembangunannya berkesan mengikuti alur bangunan lama.

Saya memandang Museum Goedang Ransum dari kejauhan, tempat aktifitas memasak untuk para pekerja tambang batubara, orang rantai, dan pejabat pemerintahan. Hanya tampak cerobong asap dan atap-atap gaya Belanda. Memandang lurus melewati pusat kota, di suguhkan dengan gedung tambang Bukit Asam, kemudian pabrik pengolahan batubara.

Perjalanan saya lanjutkan dengan menelusuri sejarah Orang Rantai ke Gudang Ransoem. Hal pertama yang saya temukan adalah tulisan Goedang Ransoem dengan ejaan Indonesia yang lama. Penggunaan ejaan lama tidak hanya saya temukan pada gerbang Goedang Ransoem. Pada toko-toko pedagang juga saya temukan penulisan ejaan lama, seperti kata warung yang ditulis dengan Waroeng.

Penulisan ejaan lama ini membuat saya terkesan.

"Silahkan diisi dahulu absennya, nanti akan dibantu oleh Ibu Nola," ujar petugas museum. Setelah mengisi buku tamu saya diantar Ibu Nola, gadis berumur 30 tahun mengelilingi museum. Hal pertama yang disuguhkan adalah pemutaran film dokumenter dengan durasi 10 menit yang menceritakan tentang penggunaan Goedang Ransoem di masa pemerintahan kolonial Belanda.

Dahulu Goedang Ransoem adalah dapur umum untuk memasakkan lebih kurang 6000 pekerja setiap harinya. Sehingga aktifitas di Goedang Ransoem cukup padat. Para pekerja di dapur umum harus kerja ekstra untuk menyiapkan makanan bagi pekerja Belanda maupun pekerja Orang Rantai yang pada umumnya didatangkan dari Pulau Jawa.

Saya disuguhkan dengan foto-foto aktifitas pekerjaan batubara. Dokumen foto ini diambil dari dokumen nasional Anri. Sehingga museum memiliki ruangan khusus foto. Alat-alat dapur umum juga digalerikan, seperti periuk dan kuali besar yang digunakan untuk memasak, tungku pemasakan khusus. Pipa uap untuk menyalurkan panas ke tungku utama. Alat-alar pertanian.

Buku-buku yang berbicara tentang Kota Tua, Orang Rantai, juga disediakan untuk pengunjung. Pengunjung bebas memiliki buku. Dengan mengeluarkan uang sepuluh ribu sudah dapat menikmati buku sejarah Sawahlunto, Orang Rantai, aktifitas di dapur umum. Menariknya kepingan CD dokumenter juga diperjual-belikan.

Pengelolaan museum yang terkelola dengan baik seperti ini di Sumbar baru saya menemukan di Sawahlunto. Amran Nur walikota terdahulu memang mengutamakan pembangunan di bidang pariwisata.

Sawahlunto Kota yang Menarik

Museum Goedang Ransoem salah satu bukti menarik keberadaan Orang Rantai. Orang Rantai, mereka para pekerja paksa yang didatangkan kebanyakan dari Pulau Jawa. Jenis pekerjaan yang dilakukan juga beragam. Mulai dari penggalian batu bara, pembuatan rel kereta api, pembuatan terowongan yang memakan waktu bertahun-tahun dengan kontur Sawahlunto yang berbukit-bukit dan berbatuan keras.

Orang Rantai ini dipekerjakan sepanjang hari. Siangnya mereka dibawa ke wilayah tambang dan wilayah pekerjaan umum. Malam harinya mereka kembali dibawa ke penjara yang terletak di Kenagarian Durian, 6 KM dari pusat kota tua.

Aktifitas orang Rantai tentu tidak akan bermula kalau tidak ada sumbangsih dari Goedang Ransoum. Goedang Ransoem menjadi lumbung perut mereka. Makanan disuplai dari Goedang Ransoem setiap harinya untuk para pekerja. Lebih dari 6 000 pekerja beraktifitas setiap hari.

Seperti apa keramaian di Sawahlunto dahulu? Saya membayangkan aktifitas di masa itu sebagai gambaran kemajuan di masa lalu. Aktifitas pekerja yang padat itu tergambar dari besarnya dapur umum. Bahkan untuk memasak saja menggunakan tenaga uap.

Keberadaan Orang Rantai, merupakan simbol kelam sejarah.

















[]
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. harianday - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger