Ditulis Ulang oleh Alizar Tanjung
Fakultas Tarbiyah tanggak tua berdirinya IAIN Imam Bonjol Padang, sekaligus sebagai awal kebangkitan Perguruan Tinggi Islam di Sumatera Barat, sesudah bubarnya Universitas Islam Darul Hikmah di Bukittinggi tahun 1958.
Fakultas Tarbiyah tanggak tua berdirinya IAIN Imam Bonjol Padang, sekaligus sebagai awal kebangkitan Perguruan Tinggi Islam di Sumatera Barat, sesudah bubarnya Universitas Islam Darul Hikmah di Bukittinggi tahun 1958.
Universitas Darul Hikmah Bukittinggi didirikan 1953, tutup 1958. Universitas ini didirikan oleh Yayasan Darul Hikmah yang diketuai oleh H. Ilyas Yakub. Yayasan ini didirikan 22 Juni 1953 dengan akta notaris Hasan Qalbi nomor 48. Universitas ini menghentikan kegiatan akademiknya karena terjadi pergolakan di Sumatera Barat tahun 1958.
Penelusuruan sejarah 50 tahun Fakultas Tarbiyah sudah dilakukan dalam bentuk penelitian terhadap sumber primer dan sumber sekunder. Termasuk sebahagian dari sesepuh pendiri Fakultas Tarbiyah sebagai referensi hidup, dan sebahagian dari sesepuh itu masih mempunyai proses berpikir yang cemerlang dan masih segar di ingatannya peristiwa berdirinya Fakultas Tarbiyah.
Catatan sejarah mengemukakan perbedaan-perbedaan pendapat tentang proses berdirinya Fakultas Pertama di IAIN Imam Bonjol Padang ini. Yakni Fakultas Tarbiyah sebagai cabang dari Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah. Kendati demikian soal perbedaan ini tidaklah menciutkan para peneliti untuk mengambil sejarah paling jernih dari berdirinya Fakultas Tarbiyah.
Berdirinya IAIN dan Berdirinya Fakultas Tarbiyah sebagai cabang dari Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah (ketika itu masih berstatus IAIN Syarif Hidayatullah) memiliki keunikan tersendiri. Keberadaan Yayasan Imam Bonjol menambah khasanah dari sejarah Fakultas Tarbiyah. Artinya Sejarah Fakultas Tarbiyah ibarat satu tubuh yang terhimpun dari Yayasan Imam Bonjol, Fakultas Tarbiyah Cabang dari Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah, dan IAIN Imam Bonjol Padang.
Pada prinsipnya Fakultas Tarbiyah ibu dari berdirinya IAIN Imam Bonjol Padang. Berdirinya Fakultas Tarbiyah yang menaungi pendidikan, ditandai dengan berdirinya ISI (Ikatan Sarjana Indonesia) pada tahun 1958 atas inisiatif panglima Kopas (Komando Operasi 17 Agustus) Sumatera Barat.
ISI Padang yang diketuai Drs. Azhari mendirikan Yayasan Imam Bonjol. Yayasan ini memulai pergerakannya dengan mempelopori Fakultas Agama Islam dengan Jurusan Tarbiyah. Drs. Azhari mempunyai peranan penting dalam penegakan batu pertama Fakultas Tarbiyah. Jurusan Tarbiyah kemudian dikukuhkan menjadi Fakultas Tarbiyah.
Fakultas Tarbiyah diresmikan pada tanggal 01 Oktober 1963. Tepat 1 Oktober 2013, Fakultas Tarbiyah genap berusia 50 tahun. Status Fakultas Tarbiyah berada dibawah naungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Setelah IAIN Imam Bonjol diresmikan 29 Nopember 1966, fakultas ini dikukuhkan menjadi salah satu Fakultas yang berada di bawah naungan IAIN Imam Bonjol Padang dengan rektor pertamanya Prof. Dr. Mahmud Yunus.
Menoleh sejenak kepada situasi sebelum tahun 1960, di Sumatera Barat ketika itu dunia Perguruan Tinggi Islam merupakan periode gawat. Puncaknya ditandai berakhirnya karir Universitas Darul Hikmah tahun 1958.
Universitas Islam Darul Hikmah didirikan Ilyas Ya'cub. Ketua yayasan Darul Hikmah ini cukup memberikan sumbangan besar bagi Sumbar. Matahari akademik dari Sumbar. Universitas yang dipimpin rektor pertama Syeikh Ibrahim Musa Parabek ini diresmikan Menteri Agama RI KH. Ilyas, 12 Oktober 1957.
Universitas Islam Darul Hikmah telah memiliki 4 Fakultas Induk, yakni Fakultas Syariah/Hukum Islam (1956) di Bukittinggi, ushuluddin (1956) di Padang Panjang, Dakwah wal- Irsyad (1957) di Payakumbuh, dan Fakultas Lughat al-Arabiyah wal-Tarbiyah (1957) di Padang.
Meskipun tahun 1958 itu terjadi pergolakan di Sumatera Barat dan berakibat mundurnya Universitas Darul Hikmah mundur dari panggung akademik, namun semangat dari masyarakat Minangkabau tetap membara untuk mendirikan untuk kembali membangun perguruan tinggi Islam di Daerah Minangkabau yang terkenal dengan falsafah hidup "adat bersandi syara', syara' bersandi kitabullah".
Sejarah telah mencatat bahwa Minangkabau adalah gudangnya para ulama dan tempat kelahiran pahlawan-pahlawan besar tanah air serta kiblat pengetahuan Islam di Tanah air. Semangat para ulama dan cendekiawan semakin menggebu untuk mendirikan perguruan tinggi Islam kembali di atas tinggalnya puing-puing Universitas Darul Hikmah, sebab masyarakat Sumatera Barat telah memiliki sejarah panjang Perguruan Tinggi Islam, di antaranya Perguruan Tinggi Islam Pariaman (1513-1697), Perguruan Tinggi Islam Kamang Bukittinggi (1803-1822), Sekolah Islam Tinggi di Padang (1940-1942), dan Universitas Islam Darul Hikmah (1953-1958).
Semangat masyarakat Sumbar mendirikan perguruan Tinggi Islam merupakan kesadaran baru. Kesadarang itu terutama tumbuh di kalangan intelektual, pada sarjana, dan tokoh masyarakat Sumatera Barat umumnya. Para Sarjana dan intelektual ramai-ramai pulang kampung, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.
Buah manisnya dari kesadaran masyarakat Sumbar itu ditandai dengan berdirinya ISI di Padang. ISI berdiri atas inisiatif Panglima Kopag Brigjen Surjo Soempono tahun 1958, dengan ketua dipercayakan kepada Drs. Azhari.
Drs. Azhari jiwa baru berikutnya yang menjadi penggerak keberlangsungan Fakultas Tarbiyah. Azhari ketika itu baru pulang dari Yogyakarta setelah berhasil memperoleh keserjanaannya Fakultas Sosial Politik di Universitas Gajah Mada. Dia langsung ditunjuk menjadi ketua ISI Padang. Sungguhpun Drs. Azhari baru kembali dari Yogya, dia telah diberikan kepercayaan jabatan sebagai Sekretaris Kota Madya Padang masa pemerintahan Walikota Zainal Abidin Sutan Pangeran.
ISI Padang sebagai wadah sarjana muda Sumbar, maka ISI tidak dapat melepaskan diri dari kegiatan-kegiatan yang bergerak di bidang pendidikan, terutama kembali aktifitas untuk mendirikan kembali Perguruan Tinggi Islam.
Para sarjana muda yang tergabung dalam ISI padang di kemudian hari mengalihkan perhatian lebih lanjut terhadap konsep perguruan tinggi.. Mereka menggarap konsep pendirian lembaga-lembaga perguruan tinggi, disamping ikut menyumbangkan pemikiran memecahkan persoalan-persoalan masyarakat, meredakan darah pemberontakan, menciptakan persatuan dan kesatuan, sesuai dengan tujuannya semula yang diungkapkan oleh Panglima Kopag.
Ada hal yang menarik dari pondasi awal Fakultas Tarbiyah. Orang-orang yang mengonsep Perguruan Tinggi Islam, mereka bukan dari Universitas Islam. Mereka merupakan dari jalur pendidikan umum yang peduli terhadap Islam. Hal ini disebabkan dari latarbelakang perjalanan hidup mereka. Mereka sambil sekolah umum juga belajar di sekolah agama, pagi di sekolah umum, sorenya belajar di Surau.
Setelah situasi mereda, pergolakan sudah tenang, panglima Kopag Brigjen Surjo Soempono melihat betap besar keinginan masyarakat Sumbar untuk mendirikan Perguruan Tinggi Islam, terutama mereka para sarjana muda yang tergabung dalam ISI Padang berkeinginan untuk mewujudkan cita-cita masyarakat untuk membangun kembali Perguruan Tinggi Islam, lembaga pendidikan pada umumnya. Brigjen Surjo Soempono memerintahkan untuk mendirikan yayasan. Selanjutnya diharapkan mengadakan persiapan hendak membangun lembaga pendidikan dari tingkat SLA sampai ke perguruan tinggi terutama Perguruan Tinggi Islam seperti Fakultas Agama Islam di samping Fakultas Sosial Politik. Perintah itu langsung diterima Drs. Azhari selaku Ketua ISI Padang, yang ketika Azhari masih memangku jabatan sebagai Sekretaris Kota Padang.
Dari kerja keras ISI Padang yang diketuai Drs. Azhari lahirlah Yayasan Imam Bonjol, sebagai bayi yang mulus yang memiliki energi positif, sekaligus merupakan letupan awal dari masyarakat Sumbar untuk kembali membangun Perguruan Tinggi Islam di Sumbar. Modalnya yang dikeluarkan modal dengkul, modal awal Rp.10.000 dan seberkas konsep Anggaran Dasar Yayasan Imam Bonjol. Azhari dan dkk, menghadap notaris Padang tanggal 10 Februari 1962 yang ketika itu notarisnya Hasan Qalbi, dia wakil Notaris Padang.
Tokoh pendiri Yayasan Imam Bonjol yang ikut menghadap sekaligus menjadi saksi di hadapan Notaris Hasan Qalbi, ada 4 orang. Mereka yaitu:
1. Meester Chaidir Nin Latif Datuk Mandaro (Kepala Eksploitasi Jawatan Kereta Api Sumatera Barat)
2. Drs. Azhari
3. Drs. Moerkarno (Komisaris Polisi Tingkat I di Kantor Polisi Komisariat Sumbar)
4. Meester Liem Swan Hong alias Haslim SH (Saudagar, mantan Pimpinan PT. Semen Tiga Roda dan Perusahaan Produksi Laserin di Jakarta).
Berdirinya IAIN dan Berdirinya Fakultas Tarbiyah sebagai cabang dari Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah (ketika itu masih berstatus IAIN Syarif Hidayatullah) memiliki keunikan tersendiri. Keberadaan Yayasan Imam Bonjol menambah khasanah dari sejarah Fakultas Tarbiyah. Artinya Sejarah Fakultas Tarbiyah ibarat satu tubuh yang terhimpun dari Yayasan Imam Bonjol, Fakultas Tarbiyah Cabang dari Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah, dan IAIN Imam Bonjol Padang.
Pada prinsipnya Fakultas Tarbiyah ibu dari berdirinya IAIN Imam Bonjol Padang. Berdirinya Fakultas Tarbiyah yang menaungi pendidikan, ditandai dengan berdirinya ISI (Ikatan Sarjana Indonesia) pada tahun 1958 atas inisiatif panglima Kopas (Komando Operasi 17 Agustus) Sumatera Barat.
ISI Padang yang diketuai Drs. Azhari mendirikan Yayasan Imam Bonjol. Yayasan ini memulai pergerakannya dengan mempelopori Fakultas Agama Islam dengan Jurusan Tarbiyah. Drs. Azhari mempunyai peranan penting dalam penegakan batu pertama Fakultas Tarbiyah. Jurusan Tarbiyah kemudian dikukuhkan menjadi Fakultas Tarbiyah.
Fakultas Tarbiyah diresmikan pada tanggal 01 Oktober 1963. Tepat 1 Oktober 2013, Fakultas Tarbiyah genap berusia 50 tahun. Status Fakultas Tarbiyah berada dibawah naungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Setelah IAIN Imam Bonjol diresmikan 29 Nopember 1966, fakultas ini dikukuhkan menjadi salah satu Fakultas yang berada di bawah naungan IAIN Imam Bonjol Padang dengan rektor pertamanya Prof. Dr. Mahmud Yunus.
Menoleh sejenak kepada situasi sebelum tahun 1960, di Sumatera Barat ketika itu dunia Perguruan Tinggi Islam merupakan periode gawat. Puncaknya ditandai berakhirnya karir Universitas Darul Hikmah tahun 1958.
Universitas Islam Darul Hikmah didirikan Ilyas Ya'cub. Ketua yayasan Darul Hikmah ini cukup memberikan sumbangan besar bagi Sumbar. Matahari akademik dari Sumbar. Universitas yang dipimpin rektor pertama Syeikh Ibrahim Musa Parabek ini diresmikan Menteri Agama RI KH. Ilyas, 12 Oktober 1957.
Universitas Islam Darul Hikmah telah memiliki 4 Fakultas Induk, yakni Fakultas Syariah/Hukum Islam (1956) di Bukittinggi, ushuluddin (1956) di Padang Panjang, Dakwah wal- Irsyad (1957) di Payakumbuh, dan Fakultas Lughat al-Arabiyah wal-Tarbiyah (1957) di Padang.
Meskipun tahun 1958 itu terjadi pergolakan di Sumatera Barat dan berakibat mundurnya Universitas Darul Hikmah mundur dari panggung akademik, namun semangat dari masyarakat Minangkabau tetap membara untuk mendirikan untuk kembali membangun perguruan tinggi Islam di Daerah Minangkabau yang terkenal dengan falsafah hidup "adat bersandi syara', syara' bersandi kitabullah".
Sejarah telah mencatat bahwa Minangkabau adalah gudangnya para ulama dan tempat kelahiran pahlawan-pahlawan besar tanah air serta kiblat pengetahuan Islam di Tanah air. Semangat para ulama dan cendekiawan semakin menggebu untuk mendirikan perguruan tinggi Islam kembali di atas tinggalnya puing-puing Universitas Darul Hikmah, sebab masyarakat Sumatera Barat telah memiliki sejarah panjang Perguruan Tinggi Islam, di antaranya Perguruan Tinggi Islam Pariaman (1513-1697), Perguruan Tinggi Islam Kamang Bukittinggi (1803-1822), Sekolah Islam Tinggi di Padang (1940-1942), dan Universitas Islam Darul Hikmah (1953-1958).
Semangat masyarakat Sumbar mendirikan perguruan Tinggi Islam merupakan kesadaran baru. Kesadarang itu terutama tumbuh di kalangan intelektual, pada sarjana, dan tokoh masyarakat Sumatera Barat umumnya. Para Sarjana dan intelektual ramai-ramai pulang kampung, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.
Buah manisnya dari kesadaran masyarakat Sumbar itu ditandai dengan berdirinya ISI di Padang. ISI berdiri atas inisiatif Panglima Kopag Brigjen Surjo Soempono tahun 1958, dengan ketua dipercayakan kepada Drs. Azhari.
Drs. Azhari jiwa baru berikutnya yang menjadi penggerak keberlangsungan Fakultas Tarbiyah. Azhari ketika itu baru pulang dari Yogyakarta setelah berhasil memperoleh keserjanaannya Fakultas Sosial Politik di Universitas Gajah Mada. Dia langsung ditunjuk menjadi ketua ISI Padang. Sungguhpun Drs. Azhari baru kembali dari Yogya, dia telah diberikan kepercayaan jabatan sebagai Sekretaris Kota Madya Padang masa pemerintahan Walikota Zainal Abidin Sutan Pangeran.
ISI Padang sebagai wadah sarjana muda Sumbar, maka ISI tidak dapat melepaskan diri dari kegiatan-kegiatan yang bergerak di bidang pendidikan, terutama kembali aktifitas untuk mendirikan kembali Perguruan Tinggi Islam.
Para sarjana muda yang tergabung dalam ISI padang di kemudian hari mengalihkan perhatian lebih lanjut terhadap konsep perguruan tinggi.. Mereka menggarap konsep pendirian lembaga-lembaga perguruan tinggi, disamping ikut menyumbangkan pemikiran memecahkan persoalan-persoalan masyarakat, meredakan darah pemberontakan, menciptakan persatuan dan kesatuan, sesuai dengan tujuannya semula yang diungkapkan oleh Panglima Kopag.
Ada hal yang menarik dari pondasi awal Fakultas Tarbiyah. Orang-orang yang mengonsep Perguruan Tinggi Islam, mereka bukan dari Universitas Islam. Mereka merupakan dari jalur pendidikan umum yang peduli terhadap Islam. Hal ini disebabkan dari latarbelakang perjalanan hidup mereka. Mereka sambil sekolah umum juga belajar di sekolah agama, pagi di sekolah umum, sorenya belajar di Surau.
Setelah situasi mereda, pergolakan sudah tenang, panglima Kopag Brigjen Surjo Soempono melihat betap besar keinginan masyarakat Sumbar untuk mendirikan Perguruan Tinggi Islam, terutama mereka para sarjana muda yang tergabung dalam ISI Padang berkeinginan untuk mewujudkan cita-cita masyarakat untuk membangun kembali Perguruan Tinggi Islam, lembaga pendidikan pada umumnya. Brigjen Surjo Soempono memerintahkan untuk mendirikan yayasan. Selanjutnya diharapkan mengadakan persiapan hendak membangun lembaga pendidikan dari tingkat SLA sampai ke perguruan tinggi terutama Perguruan Tinggi Islam seperti Fakultas Agama Islam di samping Fakultas Sosial Politik. Perintah itu langsung diterima Drs. Azhari selaku Ketua ISI Padang, yang ketika Azhari masih memangku jabatan sebagai Sekretaris Kota Padang.
Dari kerja keras ISI Padang yang diketuai Drs. Azhari lahirlah Yayasan Imam Bonjol, sebagai bayi yang mulus yang memiliki energi positif, sekaligus merupakan letupan awal dari masyarakat Sumbar untuk kembali membangun Perguruan Tinggi Islam di Sumbar. Modalnya yang dikeluarkan modal dengkul, modal awal Rp.10.000 dan seberkas konsep Anggaran Dasar Yayasan Imam Bonjol. Azhari dan dkk, menghadap notaris Padang tanggal 10 Februari 1962 yang ketika itu notarisnya Hasan Qalbi, dia wakil Notaris Padang.
Tokoh pendiri Yayasan Imam Bonjol yang ikut menghadap sekaligus menjadi saksi di hadapan Notaris Hasan Qalbi, ada 4 orang. Mereka yaitu:
1. Meester Chaidir Nin Latif Datuk Mandaro (Kepala Eksploitasi Jawatan Kereta Api Sumatera Barat)
2. Drs. Azhari
3. Drs. Moerkarno (Komisaris Polisi Tingkat I di Kantor Polisi Komisariat Sumbar)
4. Meester Liem Swan Hong alias Haslim SH (Saudagar, mantan Pimpinan PT. Semen Tiga Roda dan Perusahaan Produksi Laserin di Jakarta).
Hal yang menarik yang melatarbelakangi berdirinya Yayasan Imam Bonjol ini, yaitu latar belakang orang-orangnya. Keempat orang yang hadir sebagai saksi pendirian yayasan, mereka orang-orang yang berlatar pendidikan yang berbeda-beda.
Pendaftaran Yayasan Imam Bonjol ke notaris juga didampingi dan ditandatangani oleh Amilius Sjahdanoer, S.H., Jamar Joenoes, Burma Burhan, S.H., Dr. Mudanton, Sutan Abdul Majid T, Zoekarnaeni, dll. Dari hasil pertemuan pemuka Yayasan Imam Bonjol itu, Notaris Padang mengukuhkan Yayasan Imam Bonjol dengan akte notaris yang ditandatangani Hasan Qalbi, Nomor: 34 tertanggal 19 Februari 1962.
Akte Notaris Yayasan Imam Bonjol ini terdiri dari 15 halaman. Halaman 1 memuat kesaksian Yayasan Imam Bonjol menghadap Notaris Hasan Qalbi Padang. Halaman 2 sampai halaman 13 memuat Anggaran Dasar Yayasan Imam Bonjol dalam 21 fasal. Halaman 13 sampai halaman 14 mencatat para pendiri Yayasan Imam Bonjol dan sekaligus sebagai Dewan Pengurus Yayasan Imam Bonjol Periode Pertama.
Para pengurus Yayasan Imam Bonjol Periode Pertama, yaitu:
Ketua umum Drs Azhari
ketua I Mr. Chaidir Nin Latif Datuk Mandaro
Ketua II Drs. Ec. Jamar Joenoes Sutan Tumanggung
Setia Usaha I Mr. Amilius Sjah'danoer
Setia Usaha II Mr. Burma Burhan
Bendahara Hadis Didong
Pembantu.
1. Moehammad Roesli
2. Mr. Liem Swan, alias Haslim, S.H.
3. Mr. Amilius Sjah'danoer
4. Drs. Ec. Jamar Joenoes Sutan Tumanggung
5. Mr. Burma Burhan
6. Mudanton.
Tujuan berikutnya Yayasan Imam Bonjol, dituntut merealisasikan tujuan berdirinya. Hal yang menjadi tujuan Yayasan Imam Bonjol seperti yang termaktub dalam Anggaran Dasarnya Pasal 3 halaman 2 Akte Notaris No. 13 itu adalah "Mempersiapkan tenaga yang berguna bagi kemajuan dan kemakmuran nusa dan bangsa Indonesia, yaitu dengan jalan:
a. Mengadakan serta menyelenggarakan perguruan-perguruan, sekolah-sekolah, dan kursus-kursus dari segala tingkatan, terutama perguruan tinggi seperti fakultas agama, sosial politik, tata niaga, fakulas keguruan dan ilmu pendidikan, dll.
b. Melancarakan usaha-usaha dalam lapangan kebudayaan dengan arti seluas-luasnya.
Berkat usaha Yayasan Imam Bonjol merealisasikan programnya. Setelah mengadakan survei serta menghimpun pemikiran cendekiawan serta ulama dan pemuka masyarakat Sumbar lainnya, lahirlah dua fakultas dalam waktu yang bersamaan, 5 Juni 1962.
Fakultas pertama ialah Fakultas Agama Islam Jurusan Tarbiyah (pendidikan) dengan dekan Mr. Amilius Sjah'danoer, S.H. dan fakultas kedua adalah Fakultas Sosial Politik Jurusan Administrasi Negara dengan Dekan Mayor Drs. Soedarman Hadisoecipto.
Pada waktu itu khusus Fakultas Agama Islam Jurusan Tarbiyah menerima mahasiswa baru untuk tahun akademik 1962/1963. Hal yang menjadi problem ketika itu adalah tempat kuliah. PGAI yang menjadi inisiatif tempat, PGAI meminjamkan tempat untuk kuliah dan persoalan akademis, ketika itu PGAI diketuai Makmur Hamzah Sutan Makmur. Sedangkan untuk mengatasi kesulitan penyediaan tenaga pengajar terbantu sekali dengan kesediaan segala unsur seperti dari alim ulama, intelektual serjana, unsur pemuka masyarakat, dan cendekiawan lainnya, di antaranya yang menyediakan diri Prof. Zahara Idris, MA, H, Ma'ani Shaleh, M. Kiman Sutan Sikumbang, Dra. Aisyah, Anas, S.H., Drs. Bakhtiar, dll.
Mahasiswa Pertama Fakultas Agama Islam Yayasan Imam Bonjol (FAI-YB) ketika itu sekitar 100 orang. Meskipun kuliah tatap muka tidak begitu intensif, semangat pada mahasiswa tetap berapi-pai mendalami ilmu pengetahuan. Di antara mahasiswa pertama FAI-YB yaitu Rusli M. Rasyid, Juniddin Awai, A. Malik Sam, Nazaruddin, Ismail Karim, Amiruddin, Abdul Jalal, Murni Jamal, M. Farid, Dalminis, Syafril Bey, Rajulis, dll. Murni Jamal memegang nomor urut 01.
Sekarang pada umumnya mereka sudah punya kedudukan penting dalam berbagai struktur sosial masyarakat dan pemerintahan di berbagai Departemen di tanah air. ...






0 komentar:
Posting Komentar