Guru Tulis

Topics :
harianday. Diberdayakan oleh Blogger.
Home » » Inspirasi: Firdaus, Pembantu Anak Miskin

Inspirasi: Firdaus, Pembantu Anak Miskin

Written By Alizar tanjung on Rabu, 11 September 2013 | 16.33

HARIANDAY, JakartaBukannya pilih-pilih bila Moch. Firdaus menolak berbagai tawaran pekerjaan di sejumlah perusahaan swasta, empat tahun silam. Saat itu, pria berusia 44 tahun ini baru saja menggondol gelar master bidang Kesejahteraan Anak Internasional dari University of East Anglia, Norwich, Inggris, dengan beasiswa dari Ford Foundation.

"Saya merasa, setelah lulus kuliah, saya mesti bantu anak miskin yang tak punya kesempatan sekolah. Bagaimana caranya saya bisa bikin mereka sekolah lagi," ujarnya saat ditemui di kantor Yayasan Remaja Masa Depan, Tebet Dalam, Jakarta Selatan, Senin lalu. Ia membangun Yayasan Remaja Masa Depan yang mengurus panti asuhan dan bimbingan belajar gratis untuk anak-anak yang berasal dari keluarga tak mampu, aksi lanjutan yang telah dia lakukan sebelumnya.

Pengalaman hidupnya yang getir menjadi alasan utamanya. Pada 1970-an, Firdaus kecil mesti mencari duit dengan menjadi kuli angkut dan bangunan demi membiayai sekolahnya.

Sedangkan saat SMP dan SMA, Firdaus membayar ongkos sekolahnya dengan menjadi loper koran. Juga ketika diterima menjadi mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Indonesia pada 1988, Firdaus membiayai kuliahnya dengan tambahan pekerjaan sebagai tukang parkir.

Orang tua Firdaus memang jauh dari kata “berada”. Bersama orang tua dan adik-adiknya, sulung tujuh bersaudara itu dulu tinggal di rumah papan petak berukuran 3 x 3 meter di sebuah kampung di Tebet. Saking mungilnya tempat tinggal mereka, Firdaus pun memilih numpang tidur di jalanan ataupun di masjid dekat rumahnya.

Ayah yang pengangguran dan sang ibu yang hanya seorang buruh cuci, tidak memungkinkan Firdaus bersekolah jika tidak mencari duit sendiri. "Kalau ada tingkatan miskin, miskinnya keluarga saya tergolong parah. Untuk makan saja, saya mesti mencari di tong sampah atau menggoreng makanan basi," kata dia.

Kerja keras membawa Firdaus mudah mendapat pekerjaan selepas lulus dari UI. Sejumlah profesi pernah ia coba, seperti penyunting buku, dosen, juga manajer program di sejumlah perusahaan swasta. Namun tidak satu pun dari profesi itu yang lebih dari setahun dijalaninya.

Hingga akhirnya pada 1994 ia bergabung dengan Yayasan Pelita Ilmu, bentukan dosen-dosen UI. Di lembaga swadaya masyarakat yang bergerak pada bidang pendidikan itulah Firdaus merasa betah. Namun, pada 1999, lelaki berkulit sawo matang dan berkepala plontos itu memilih keluar. Ia kemudian membuat sekolah gratis untuk siswa SMP di sebuah rumah kontrakan di Gudang Peluru, Jakarta Selatan.

Dari yang semula siswanya hanya 15, sekolah gratis bikinan Firdaus sudah meluluskan lebih dari 1.000 siswa pada tahun ke-10. Bahkan, pada 2005, sekolahnya menjuarai lomba pengentasan kemiskinan paling inovatif yang diselenggarakan oleh Bank Dunia pada 2005. Namun, pada 2009, Firdaus memilih menutup sekolah gratis tersebut. "Tahun 2009 sudah banyak program sejenis. Saya pikir, saya mesti membantu anak miskin dengan cara lain lagi," ucapnya.

Dengan tabungan yang ada, ditambah bantuan dana dari masyarakat, Firdaus membuka panti asuhan dan bimbingan belajar gratis Remaja Masa Depan. Ratusan siswanya tidak cuma warga sekitar, tapi juga anak miskin yang tinggal di Bukit Duri, Manggarai, Menteng Dalam, juga Pancoran.

Adapun untuk biaya operasionalnya, kata dia, 90 persen dari masyarakat. Demikian juga tiga rumah milik yayasan di Tebet, semua dari sumbangan warga. "Dulu saya door to door minta sumbangan orang, tapi sekarang orang-orang datang ke sini untuk kasih sumbangan. Jadi, soal pendanaan tak pernah kesulitan lagi," kata pengagum bekas Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud Md.

Kepada para anak asuhnya, Firdaus selalu mengingatkan agar tidak puas dan bangga hanya karena sudah mengantongi ijazah SMA. Apalagi ada kecenderungan anak dari keluarga miskin ingin buru-buru cari duit dengan hanya berbekal ijazah tersebut. "Saya bilang ke mereka, kalau mereka cuma lulusan SMA, saat kerja gajinya hanya akan sebatas upah minimum regional. Itu sama saja melanggengkan kemiskinan," kata Firdaus. “Kalau mereka kuliah, dapat kerjaan yang baik, kan bisa membantu saudaranya sekolah.”

Namun Firdaus belum puas dengan apa yang dilakukannya. Tahun depan, ia berharap bisa membuat SMP unggulan gratis di daerah Tebet. Yang bisa mengeluarkan anak-anak miskin dari kemiskinan, ujarnya, adalah pendidikan. "Apa lagi selain itu?" ujarnya.(sumber:tempo)
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. harianday - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger