Penulis Alizar Tanjung
Kalau melihat bendi
tentu yang terbayang pertama sekali adalah aksesoris matanya. Mempunyai mata
yang dapat melihat tetapi tidak melihat. Semua gerakan jalan diatur oleh tali
kekang. Begitu juga dengan kusirnya, kusirnya sibuk mengurusi tali kekang kuda,
biar perutnya berisi untuk keluarga yang menunggu di rumah.
Matahari mulai
mewujudkan dirinya ke barat garis pantai Sumatera. Hiruk-pikuk pengunjung Pasar Raya Padang
sedang padatnya. Salah satu persimpangan sudut pasar ditempati oleh bendi yang
berebut tempat parkir dengan ojek yang berjajar sepanjang bahu jalan pasar.
Andi (32) tahun
salah seorang kusir bendi tengah menanti penumpang. Sesekali mulutnya komat-kamit
menawari penumpang. Keringatnya yang mengalir dia usap dengan tepian baju.
"Saya sudah
menarik bendi di sini lebih kurang sepuluh tahun," ujar lelaki asal Banuaram
ini beberapa hari yang lalu kepada penulis di atas Bendinya. Dari hasil menarik
bendi inilah Andi membiayai kebutuhan keluarga, termasuk membiayai sekolah tiga
orang anaknya.
"Alhamdulillah
satu anak saya sudah di SMP," ujar Andi dengan tersenyum sambil memainkan tali
kekang kudanya. Kuda itu berjingkak dan bergeser ke depan.
Sebenarnya
sebelum memutuskan menjadi kusir bendi, andi telah melintang dengan pekerjaan
sebagai buruh. Dia juga bekerja sebagai pedagang asongan. Bahkan dia pernah menjadi
atlet kuda pacu yang mewakili Padang ke Payakumbuh dan Padangpanjang. Namun
perhatian pemerintah sangat kurang menurut Andi. Hingga ia gulung tikar sebaga
atlet pacu kuda.
"Saya
pernah menjadi atlet pacu kuda," ujarnya dengan senyum. Andi memutuskan
menjadi kusir bendi. Dari mata pencaharian menarik bendi inilah Andi dapat
hidup secukupnya.
Dia menarik
bendi ke Simpang Kalumpang, Banuaram, Gantiang. Sesekali sebagai bendi sewaan
di hari liburan atau walimah. "Sekali sewahan biasanya 150 sampai 200
ribu," ujar Andi. Sedangkan di hari biasanya mangkal di Simpang Pasar Raya
Padang.
Jujur diakui Andi,
"kalau lagi baik dapat untung bersih 100 ribu dalam sehari," ujarnya
kepada penulis. Dalam sehari Andi dapat menarik sampai sepuluh kali dengan tarif
10 ribu per satu setengah kilometer. Kalau lagi minimnya kadang hanya dua kali menarik
dalam sehari.
Peningkatan
pendapatan pada Sabtu dan Minggu merupakan nasib baik bagi Andi. "Lumayan
hari libur pendapatan setidaknya dua kali lipat," ujar Andi yang rajin
memandikan kudanya satu kali dalam sehari. Kebersihan kuda menurutnya memang sangat
penting agar kuda tetap sehat dan bugar dalam mencari nafkah.
Pengguna bendi
menurut Andi banyak dari kalangan orangtua. "Umumnya orangtua dan
kebanyakan kaum ibu," ujar Andi yang telah memiliki tiga kuda pribadi.
Kalau orang-orang remaja hanya pada hari libur saja. "Kebanyakan untuk kebutuhan
wisata." Namun paska lebaran ini penumpang memang sepi. Apalagi peran
bendi juga telah digantikan oleh keberadaan ojek semenjak tahun 2000.
Keberadaan ojek
membuat mata pencaharian sebagai kusir bendi menjadi terpojok. Pasalnya bendi
harus bersaing dengan ojek yang memang lebih efisien. Berbeda dengan bendi yang
waktu antarnya cukup menyita waktu.
Hal yang membuat
Andi bertahan menjadi kusir bendi selain karena masih ada peminatnya, juga
karena alasan bisnis. "Bendi dapat dibisniskan. Kalau kuda kecil dibeli 15
juta, bendi besar dapat dijual 25 juta."
Andi memilih
membeli kuda kecil buat bendinya. Setahun pemakaian, kudanya sudah dapat dijual
kembali dengan untung 5 sampai 10 juta. Inilah yang membuat Andi bertahan
sebagai kusir bendi. Musim nikah juga peristiwa yang dinanti-nanti oleh kusir
bendi ini. Padang memang tidak lazim lagi dengan penggunaan jasa bendi sebagai
arak-arakan orang menikah
Lain halnya
dengan mukhlis lelaki yang telah setia menarik bendi selama 30 tahun.
"Saya sudah menarik bendi 30 tahun, dahulu sempat kerja serabutan, mulai
dari berdagang di pasar," ujar lelaki 58 tahun ini sembari memperlihatkan
giginya yang sudah tidak utuh lagi.
Pendapatannya
dia tidak sebaik pendapatan Andi. "Dalam sehari rata-rata 50 ribu. Hari ini
baru 21 ribu," ujar Mukhlis memperlihatkan dua lembar uang sepuluh ribu
merah dan satu lembar uang seribu rupiah.
"Awak sudah
tua, awak harus mencari dana buat anak-anak," ujar Mukhlis yang juga asal
banuaram ini.
Dari 12 orang
anaknya, dari hasil pencarian sebagai kusir bendi dia telah menyelesaikan
kuliah satu orang anaknya dari salah satu universitas negeri di Sumatera Barat.
Dia mengaku sekarang mata pencaharian sebagai
kusir bendi menurun tajam. Dia juga menyayangkan pemerintah tidak mengambil
inisiatif tegas buat mempertahan keberadaan bendi. Padahal bendi adalah aset
wisata pemerintah Kota Padang yang mengharumkan Kota Padang.()






0 komentar:
Posting Komentar