Guru Tulis

Topics :
harianday. Diberdayakan oleh Blogger.
Home » » Mata Bendi yang Rabun

Mata Bendi yang Rabun

Written By Alizar tanjung on Sabtu, 31 Agustus 2013 | 03.35

Penulis Alizar Tanjung
Kalau melihat bendi tentu yang terbayang pertama sekali adalah aksesoris matanya. Mempunyai mata yang dapat melihat tetapi tidak melihat. Semua gerakan jalan diatur oleh tali kekang. Begitu juga dengan kusirnya, kusirnya sibuk mengurusi tali kekang kuda, biar perutnya berisi untuk keluarga yang menunggu di rumah.
  

Matahari mulai mewujudkan dirinya ke barat garis pantai Sumatera.  Hiruk-pikuk pengunjung Pasar Raya Padang sedang padatnya. Salah satu persimpangan sudut pasar ditempati oleh bendi yang berebut tempat parkir dengan ojek yang berjajar sepanjang bahu jalan pasar.

Andi (32) tahun salah seorang kusir bendi tengah menanti penumpang. Sesekali mulutnya komat-kamit menawari penumpang. Keringatnya yang mengalir dia usap dengan tepian baju.

"Saya sudah menarik bendi di sini lebih kurang sepuluh tahun," ujar lelaki asal Banuaram ini beberapa hari yang lalu kepada penulis di atas Bendinya. Dari hasil menarik bendi inilah Andi membiayai kebutuhan keluarga, termasuk membiayai sekolah tiga orang anaknya.

"Alhamdulillah satu anak saya sudah di SMP," ujar Andi dengan tersenyum sambil memainkan tali kekang kudanya. Kuda itu berjingkak dan bergeser ke depan.

Sebenarnya sebelum memutuskan menjadi kusir bendi, andi telah melintang dengan pekerjaan sebagai buruh. Dia juga bekerja sebagai pedagang asongan. Bahkan dia pernah menjadi atlet kuda pacu yang mewakili Padang ke Payakumbuh dan Padangpanjang. Namun perhatian pemerintah sangat kurang menurut Andi. Hingga ia gulung tikar sebaga atlet pacu kuda.


"Saya pernah menjadi atlet pacu kuda," ujarnya dengan senyum. Andi memutuskan menjadi kusir bendi. Dari mata pencaharian menarik bendi inilah Andi dapat hidup secukupnya.

Dia menarik bendi ke Simpang Kalumpang, Banuaram, Gantiang. Sesekali sebagai bendi sewaan di hari liburan atau walimah. "Sekali sewahan biasanya 150 sampai 200 ribu," ujar Andi. Sedangkan di hari biasanya mangkal di Simpang Pasar Raya Padang.

Jujur diakui Andi, "kalau lagi baik dapat untung bersih 100 ribu dalam sehari," ujarnya kepada penulis. Dalam sehari Andi dapat menarik sampai sepuluh kali dengan tarif 10 ribu per satu setengah kilometer. Kalau lagi minimnya kadang hanya dua kali menarik dalam sehari.

Peningkatan pendapatan pada Sabtu dan Minggu merupakan nasib baik bagi Andi. "Lumayan hari libur pendapatan setidaknya dua kali lipat," ujar Andi yang rajin memandikan kudanya satu kali dalam sehari. Kebersihan kuda menurutnya memang sangat penting agar kuda tetap sehat dan bugar dalam mencari nafkah.

Pengguna bendi menurut Andi banyak dari kalangan orangtua. "Umumnya orangtua dan kebanyakan kaum ibu," ujar Andi yang telah memiliki tiga kuda pribadi. Kalau orang-orang remaja hanya pada hari libur saja. "Kebanyakan untuk kebutuhan wisata." Namun paska lebaran ini penumpang memang sepi. Apalagi peran bendi juga telah digantikan oleh keberadaan ojek semenjak tahun 2000.

Keberadaan ojek membuat mata pencaharian sebagai kusir bendi menjadi terpojok. Pasalnya bendi harus bersaing dengan ojek yang memang lebih efisien. Berbeda dengan bendi yang waktu antarnya cukup menyita waktu.

Hal yang membuat Andi bertahan menjadi kusir bendi selain karena masih ada peminatnya, juga karena alasan bisnis. "Bendi dapat dibisniskan. Kalau kuda kecil dibeli 15 juta, bendi besar dapat dijual 25 juta."

Andi memilih membeli kuda kecil buat bendinya. Setahun pemakaian, kudanya sudah dapat dijual kembali dengan untung 5 sampai 10 juta. Inilah yang membuat Andi bertahan sebagai kusir bendi. Musim nikah juga peristiwa yang dinanti-nanti oleh kusir bendi ini. Padang memang tidak lazim lagi dengan penggunaan jasa bendi sebagai arak-arakan orang menikah

Lain halnya dengan mukhlis lelaki yang telah setia menarik bendi selama 30 tahun. "Saya sudah menarik bendi 30 tahun, dahulu sempat kerja serabutan, mulai dari berdagang di pasar," ujar lelaki 58 tahun ini sembari memperlihatkan giginya yang sudah tidak utuh lagi.

Pendapatannya dia tidak sebaik pendapatan Andi. "Dalam sehari rata-rata 50 ribu. Hari ini baru 21 ribu," ujar Mukhlis memperlihatkan dua lembar uang sepuluh ribu merah dan satu lembar uang seribu rupiah.

"Awak sudah tua, awak harus mencari dana buat anak-anak," ujar Mukhlis yang juga asal banuaram ini.

Dari 12 orang anaknya, dari hasil pencarian sebagai kusir bendi dia telah menyelesaikan kuliah satu orang anaknya dari salah satu universitas negeri di Sumatera Barat.

Dia mengaku sekarang mata pencaharian sebagai kusir bendi menurun tajam. Dia juga menyayangkan pemerintah tidak mengambil inisiatif tegas buat mempertahan keberadaan bendi. Padahal bendi adalah aset wisata pemerintah Kota Padang yang mengharumkan Kota Padang.()
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. harianday - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger