Guru Tulis

Topics :
harianday. Diberdayakan oleh Blogger.
Home » » Kampus Teranak Kambing

Kampus Teranak Kambing

Written By Alizar tanjung on Senin, 09 September 2013 | 23.57

Oleh Alizar Tanjung

Terkenal kambing dengan pameo takut di air. Hal ini bukan sekedar mitos. Kalau kambing ditarik ke air dia akan membebek kepada tuannya. Kalaulah dia pandai bicara, dia akan katakan "lepaskan", "lepaskan", "lepaskan", sambil membebek.

Sebab itu orang tua- orang tua dahulu menganalogikan anaknya yang tidak mau mandi dengan kambing. "Kambiang (kambing) ang (kamu) mah. Sudah saya suruh kamu mandi tidak juga mandi-mandi. Jadi kambing saja kamu lagi." Ocehan ini bukan tabu lagi dari mulut orang tua- orang  tua yang menasihati anaknya yang suka membandel ketika diminta mandi.

Persoalan yang berbuat tingkah itu anak-anak. Jadi amarah orang tua mengumpat anaknya sama dengan kambing akan hilang bersama petangnya hari. Anak tidur lelap. Besoknya akan ia ulangi lagi kata kambing ketika anaknya membandel lagi.

Persoalannya bagaimana dengan orang tua yang sama sekali tidak peduli dengan anaknya yang membandel mandi dan lebih tidak peduli kepada kambing yang sebenarnya masuk ke perkarangan rumahnya sendiri. Bahkan kambing itu sudah makan, buang air besar, kencing di perkarangan rumahnya.

Hal ini didapati di kampus tercinta yang dipimpin oleh rektor tercinta. Kampus adalah ibarat sebuah rumah yang terorganisir. Taman terorganisir dengan baik. Gedung-gedung terorganisir dengan baik. Jalan-jalan terorganisir dengan baik. Dan dikampus tercinta kambing juga terorganisir dengan baik.

Dalam kampus yang ibarat sebuah rumah tercinta itu terpampang pula dengan baik "kebersihan sebahagian dari iman" di sebuah papan reklame. Bukan sangat ironis kambing satu rumah dengan penghuninya. Tentunya tuan rumah yang dalam hal ini saya katakan rektor sangat paham dengan penghuni rumahnya. Kalau tidak begitu bagaimana mungkin menjadi seorang rektor yang dikatakan pemimpin.

Saya percaya dan sangat yakin ayah tercinta kampus kami dapat melihat setiap hari kambing-kambing yang masuk ke dalam kampus. Bahkan dia memamerkan dirinya dengan membebek. Kambing-kambing itu tersebar di sekitar masjid kampus. Melakukan traveling ke masing-masing fakultas dengan anak-anaknya mengekor.

Bahkan kambing-kambing ini dengan santai memakan rumput taman perkarangan kampus. Santai pula melenggang-lenggokkan pinggulnya yang cantik kepada ayah tercinta kita. Tentunya ayah tercinta kampus ini melihat setiap sebentar kambing-kambing ketika hendak pergi salat atau ketika pulang dari kampus dengan mobil mengkilatnya.

Tentunya PR I, PR II, PR III, juga memperhatikan pemandangan yang romantis ini dari pagi sampai sore. Kambing-kambing seperti mendapat lampu hijau memasuki kampus. Bahkan satpam yang menjaga kampus juga tidak melarang kambing masuk kampus.

Saya berfikir seperti orang-orang tidak berfikir. Kambing ini mungkin ingin kuliah, memegang pena, buku tulis, buku bacaan yang dikarang oleh profesor-profesor yang menyuarakan kebersihan sebahagian dari iman. Menariknya kalau kambing ingin kuliah bearti sudah sebangku kambing dengan mahasiswa yang sedang menuju intelektual.

Kalau kambing sudah sebangku dengan mahasiswa suatu saat dia akan pandai pula menyuarakan diri tentang kebersihan yang tidak lakukan oleh pihak kampus. Seperti kebersihan WC yang lebih mirip tempat minum terbaik bagi hewan yang memang belum mengerti kebersihan, kecuali sesudah diajari untuk manut.

Hal ini terjadi kalau sebentar lagi keluar keputusan rektor yang menyatakan kambing boleh kuliah. Saya boleh mengatakan barangkali kambing-kambing ini sedang melakukan survei terhadap kampus apakah layak ditempati sebagai perkuliahan. Seperti taman-taman yang memang dipenuhi oleh plastik dan lokal-lokal yang konsennya dihitami oleh rayap.

Semoga ayah tercinta memperhatikan ini. Tentu ibarat kata orang kalau rumah itu bersih pasti pribadinya dianggap bersih. Alangkah akan tersenyum para tamu-tamu yang datang ketika mendapat kampus tercinta dalam keadaan bersih, rapi, kacanya mengkilat, tempat parkirnya bagus, ruang berwuduknya harum. Kalau sekarang WC memang harum juga, harumnya bikin tutup hidung. Barangkali karena tidak sesuai dengan porsinya.

Ya, tulisan saya ini saya tujukan kepada ayah saya yang merupakan ayah kampus tercinta, walaupun saya tidak lagi di kampus ini. Karena tidak ada istilah mantan ayah dalam hubungan orang tua dan saya. Selamat membaca ayah tercinta. []
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. harianday - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger