Laporan Alizar Tanjung
Seni menggeliat dengan baik di Sumbar. Terutama seni teater yang saat ini banyak bermunculan dari pinggir, seperti kampus IAIN Imam Bonjol Padang dengan TIB (Teater Imam Bonjol), Unand, UNP, STKIP PGRI, UPI YPTK.
Bahkan masing-masing kampus memiliki lebih dari satu grup teater. Hal ini didukung dengan kesadaran orang-orang muda untuk berkesenian di samping ketidaksadaran pemerintah yang melupakan kesenian.
Grup kesenian independen pun bermunculan. Salahsatunya Teater Nan Tumpah yang telah berganti nama dengan Komunitas Seni Nan Tumpah (KSNT). Anggota yang berasal dari campuran berbagai kampus dan pelajar ini menggiatkan kesenian di Sumbar.
KSNT menampilkan "Petang di Taman" karya Iwan Simatupang di Taman Budaya Sumbar, 9 September 2013, pukul 20.WIB dalam rangka memberikan apresiasi terhadap A Alin De, pendiri Bumi Teater bersama Wisran hadi.
"Dana dari penjualan karcis ini akan digunakan untuk pendanaan penerbitan naskah A Alin De," ujar Mahatma Muhammad kepada harianday.com selaku sutradara yang juga satu dari tiga pimpinan KSNT. Mahatma Muhammad menyayangkan kurangnya perhatian pemerintah terhadap mereka-mereka yang telah mengharumkan nama Sumbar di pentas nasional.
"Bahkan gedung Tamanbudaya pun harus disewa," ujar Mahatma yang identik dengan kulit cokelat ini. Sudah seharusnya pihak Tamanbudaya Sumbar selaku pemerintahan yang katanya peduli terhadap kesenian mempedulikan keberadaan orang-orang yang mencintai kesenian di hatinya.
Mahatma mengaku kesulitan untuk mendapatkan dana buat menampilkan "Petang di Taman". Penjualan tiket seharga 15.000 perkarcis, seharusnya seutuhnya diperuntukkan untuk penerbitan naskah A Alin De, harus dipangkas untuk pembiayaan pementasan. Hal ini karena sulitnya sumber dana.
Adri Sandra menyayangkan perhatian pemerintah yang malang ini. Adri Sandra selaku sastrawan yang dibesarkan di Sumbar melihat kekakuan pemerintah dalam membesarkan kesenian di Sumbar. Sebagai contoh Adri yang pernah menerima rekor Muri itu dengan puisi terpanjangnya memaparkan, "Sumbar itu memiliki pendanaan untuk penerbitan buku para penulis Sumbar." Namun dana itu tidak pernah lagi dikucurkan oleh pemerintah Sumbar.
Apalagi A Alin De yang memutuskan meninggalkan dunia 3 hari sebelum pementasan karya terakhirnya "Pelarian" adalah sutradara terbaik di Sumbar di samping Wisran Hadi sebagai penulis naskah terbaik. "Di mata saya A Alin De itu sutradara terbaik di Sumbar disamping Wisran Hadi sebagai penulis terbaik," ujar Ibrahim Ilyas teaterawan yang dibesarkan di masa Bumi Teater.[]
Seni menggeliat dengan baik di Sumbar. Terutama seni teater yang saat ini banyak bermunculan dari pinggir, seperti kampus IAIN Imam Bonjol Padang dengan TIB (Teater Imam Bonjol), Unand, UNP, STKIP PGRI, UPI YPTK.
Bahkan masing-masing kampus memiliki lebih dari satu grup teater. Hal ini didukung dengan kesadaran orang-orang muda untuk berkesenian di samping ketidaksadaran pemerintah yang melupakan kesenian.
Grup kesenian independen pun bermunculan. Salahsatunya Teater Nan Tumpah yang telah berganti nama dengan Komunitas Seni Nan Tumpah (KSNT). Anggota yang berasal dari campuran berbagai kampus dan pelajar ini menggiatkan kesenian di Sumbar.
KSNT menampilkan "Petang di Taman" karya Iwan Simatupang di Taman Budaya Sumbar, 9 September 2013, pukul 20.WIB dalam rangka memberikan apresiasi terhadap A Alin De, pendiri Bumi Teater bersama Wisran hadi.
"Dana dari penjualan karcis ini akan digunakan untuk pendanaan penerbitan naskah A Alin De," ujar Mahatma Muhammad kepada harianday.com selaku sutradara yang juga satu dari tiga pimpinan KSNT. Mahatma Muhammad menyayangkan kurangnya perhatian pemerintah terhadap mereka-mereka yang telah mengharumkan nama Sumbar di pentas nasional.
"Bahkan gedung Tamanbudaya pun harus disewa," ujar Mahatma yang identik dengan kulit cokelat ini. Sudah seharusnya pihak Tamanbudaya Sumbar selaku pemerintahan yang katanya peduli terhadap kesenian mempedulikan keberadaan orang-orang yang mencintai kesenian di hatinya.
Mahatma mengaku kesulitan untuk mendapatkan dana buat menampilkan "Petang di Taman". Penjualan tiket seharga 15.000 perkarcis, seharusnya seutuhnya diperuntukkan untuk penerbitan naskah A Alin De, harus dipangkas untuk pembiayaan pementasan. Hal ini karena sulitnya sumber dana.
Adri Sandra menyayangkan perhatian pemerintah yang malang ini. Adri Sandra selaku sastrawan yang dibesarkan di Sumbar melihat kekakuan pemerintah dalam membesarkan kesenian di Sumbar. Sebagai contoh Adri yang pernah menerima rekor Muri itu dengan puisi terpanjangnya memaparkan, "Sumbar itu memiliki pendanaan untuk penerbitan buku para penulis Sumbar." Namun dana itu tidak pernah lagi dikucurkan oleh pemerintah Sumbar.
Apalagi A Alin De yang memutuskan meninggalkan dunia 3 hari sebelum pementasan karya terakhirnya "Pelarian" adalah sutradara terbaik di Sumbar di samping Wisran Hadi sebagai penulis naskah terbaik. "Di mata saya A Alin De itu sutradara terbaik di Sumbar disamping Wisran Hadi sebagai penulis terbaik," ujar Ibrahim Ilyas teaterawan yang dibesarkan di masa Bumi Teater.[]






0 komentar:
Posting Komentar